PENYEDIAAN DATA GEOLOGI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI PASKA GEMPABUMI PALU-DONGGALA

Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo mengguncang Kabupaten Donggala dan Kota Palu pada hari Jumat 28 September 2018 disertai gempa – gempa susulan lainnya banyak menelan korban jiwa dan kerusakan fisik. Secara regional, daerah Palu, Donggala dan sekitarnya merupakan daerah yang rawan gempabumi karena terletak pada zona sesar Palu Koro terbukti dengan sudah tercatat 10 kali gempabumi melanda daerah tersebut.

 

20180903_134103.jpg

 

Gambar 1. Pusat – Pusat Gempa yang Mengguncang Palu dan sekitaranya (sumber : USGS dan Google Earth)

 

Secara umum Geologi daerah Palu dan Donggala disusun oleh batuan tua Mesozoik dan Kenozoik yang mengapit lembah Palu yang disusun oleh endapan aluvial sangat muda yang mempunyai kerentanan tinggi terhadap guncangan tanah akibat gempa bumi. Risiko kerusakan tinggi akibat guncangan gempa bumi tersebut umumnya terpusat di zona kerentanan yang relatif tinggi terhadap guncangan tanah seperti yang terjadi pada Hotel Roa – Roa, Ramayana, Petobo dan Balaroa.

Sebagai upaya tanggap darurat sekaligus untuk membantu penyiapan data-data perencanaan rehabilitasi dan rekontruksi paska gempabumi Palu-Donggala ini, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral membentuk tim tanggap darurat yang akan diterjunkan ke daerah Palu untuk membuat peta mikrozonasi. Peta Mikrozonasi ini dapat menunjukan potensi bencana gempabumi dan kerentanan guncangan tanah di Kota Palu dan sekitarnya. Peta ini harus dijadikan acuan dalam penataan ruang wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota maupun dalam pembangunan infrastruktur di masa mendatang. Selain itu, peta ini juga harus menjadi acuan dalam perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan gedung dan non gedung. Hal- hal tersebut diharapkan dapat meminimalisir korban dan kerusakan gempabumi yang bakal terjadi dimasa depan.