ANALISIS KEJADIAN GEMPABUMI BALI 16 OKTOBER 2021

ANALISIS KEJADIAN GEMPABUMI BALI 16 OKTOBER 2021

Oleh

Pusat Survei Geologi, Jln.Diponegoro No.57 Bandung

(A.Soehaimi,Bambang Sugiarto, S.R Sinung Baskoro dan Yayan Sopyan,

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

 

Sabtu 16 Oktober 2021, pukul 03:18:23 WIB, telah terjadi gempabumi merusak di P. Bali. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan gempabumi tersebut berpusat di darat, pada koordinat 115,45° BT dan 8,32° LS, berkekuatan M 4,8, berkedalaman 10 km. Secara geografis pusat gempabumi ini berjarak sekitar 18,4 km timur laut Kota Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali.

Peta seismotektonik regional P.Bali dan sekitarnya (Pusat Survei Geologi, 2016), menunjukan kegempaan di wilayah ini bersumber dari aktifitas tunjaman antara lempeng samudera Hindia-Australia dengan lempeng benua Europa-Asia di selatan dan dibawah P.Bali, gempabumi bersumber dari patahan-patahan aktif dekat permukaan di daratan dan gempabumi gunungapi aktif di daratan P. Bali. Gempabumi yang terjadi pada tanggal 16 Oktober 2021 tersebut diatas, berpusat di lajur Patahan Aktif Baratdaya G.Agung, seperti terlihat di dalam peta Seismotektonik dan PSHA P.Bali skala 1 : 500.000 (Pusat Survei Geologi, 2016 unpub). Patahan aktif yang terletak di antara Mt Agung dan Mt. Batur ini. juga terpetakan pada Peta Seismotektonik daerah Karangasem Bali skala 1 : 100.000 (Pusat Survei Geologi, 2016), disebut sebagai Patahan Aktif Mendatar Menganan (dextral strike slip fault) Baratlaut G.Agung, panjang 15,85 km; kekuatan maksimum 5.9 Mw dan pergeseran maksimum di lapangan pada batuan Gunungapi Kuarter 0.28 meter. seperti terlihat dalam Gambar 2.

*.*.jpg

 Gambar 1. Peta seismotektonik dan PSHA P. Bali Skala 1 : 500.000 (Pusat Survei Geologi, 2016 Unpub)

*.*.jpg

Gambar 2. Patahan Aktif Baratlaut G.Agung pada bagian Peta Seismotektonik Daerah Karangasem Bali skala 1 : 100.000 (Pusat Survei Geologi, 2016, Publish)

Data dan informasi patahan aktif tersebut diatas, dipertegas oleh data Topografi dan Demnas, data Kegempaan (BMKG tahun 2009-2020), Sebaran Gunungapi Holosen dan Pleistosen, Gaya berat anomali sisa dan gaya berat full-scale (Hirt, 2019) seperti terlihat dalam Gambar 3.

*.*.jpg

 Gambar 3. Data kegempaan, gunungapi, gayaberat dan topografi di daerah sekitar patahan aktif baratlaut G. Agung.

Sebaran pusat-pusat gempabumi yang memperlihatkan tingkat kekuatannya (besar dan kecil lingkaran) dan kedalamannya (warna merah, kuning dan hijau) terlihat berasosiasi di sepanjang zona patahan aktif tersebut diatas (BMKG 2009-2020,http://repogempa.bmkg.go.id/repo_new/) seperti terlihat dalam Gambar 3 a, b,c dan d. Sebaran pusat gempabumi dan kekuatannya seperti tersebut diatas secara lebih rinci di sepanjang zona patahan aktif baratlaut G.Agung dapat dilihat dalam Gambar 4.

*.*.jpg

 Gambar 4. Sebaran pusat gempabumi dan kekuatan nya di sepanjang zona patahan aktif baratlaut G.Agung

Penampang geolistrik memotong patahan tersebut diatas seperti terlihat dalam Gambar 5. Patahan ini terdapat pada kedalaman sangat dangkal, diduga pada kedalaman – 43 m dibawah permukaan dan miring ke arah timur, memotong batuan gunungapi muda Batur dan Agung serta endapan sungai Kubu

*.*.jpg

Gambar 5. Penampang pendugaan geolistrik bawah permukaan berarah barat-timur memotong Patahan Aktif Baratlaut G.Agung

Ultra-high resolution gravity (Hirt, 2019) dataset dan skrip komputasi satelit gravity Curtin University (http://ddfe.curtin.edu.au/models/SRTM2 gravity 2018/) menghasilkan peta gravity full scale dan residual dengan resolusi sangat tinggi, seperti terlihat dalam Gambar 3 e dan f. Patahan aktif baratlaut G.Agung ini berada pada anomaly residual rendah (warna biru tua), merupakan lapisan sedimen/rombakan gunungapi yang cukup tebal. Sifat fisik material sedimen ini bersifat urai, lepas dan lunak (belum terkonsulidasi dengan baik) sehingga menimbulkan amplifikasi/penguatan gelombang gempabumi. Morfologi berupa lereng-lereng dan perbukitan serta lembah sungai aktif sekitar tubuh gunungapi turut menambah resiko gempabumi dan gerakan tanah di daerah ini.

Kerusakan di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, ini tersebar di beberapa desa di 4 kecamatan, antara lain Desa Ban dan Dukuh (Kecamatan Kubu), Rendang dan Pempatan (Rendang), Jungutan (Bebandem) dan Amerta Buana (Selat); 243 rumah rusak berat, 300 rumah rusak ringan; 21 unit pelinggih atau bangunan suci, 6 paseh dan 2 candi rusak berat. Kerusakan rumah penduduk akibat gempabumi ini, seperti terlihat dalam Gambar 4 (PVMBG, 2021).

(https://www.kompas.tv/article/222575/update-243-rumah-di-karangasem-bali-rusak-berat-akibat-gempa?fbclid=IwAR3iAU9ShisSs-1Ax0M-mVDtHsD9Xe18kC00f0Q9TdVQV66QDHgY6JUNlF4)

*.*.jpg

 Gambar 6. Kerusakan rumah penduduk akibat gempabumi 16 Oktober 2021 di Banjar Dusun Jatituhu, Desa Ban, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem (Foto Tim Gempabumi Bali 2021, PVMBG).

Mengacu pada tipe struktur, untuk bangunan tidak tahan gempabumi (MSK 1964) seperti terlihat dalam Tabel 1., Banguan seperti terlihat dalam Gambar 4 tersebut diatas adalah merupakan struktur tipe B yakni dari batubata biasa dengan blok besar, tipe prefabricated, sebagaian berstruktur kayu dan berbatu alam. Bangunan seperti ini mengalami rusak pada tingkat 4 (empat) yakni rusak berat, adanya gap pada dinding, sebagian dari bangunan runtuh, sebagian dari dinding hilang dikarenakan hilangnya daya rekat, dinding dalam dan dalamannya runtuh.

Tabel 1. Skala MSK untuk tipe struktur tidak anti gempabumi dan tingkat kerusakan

(MSK, 1964)

*.*.jpg

Peta Vs30 regional Indonesia menunjukan P. Bali secara umum disusun oleh batuan dan tanah dengan Vs30= 200-500 m/det (Gambar 5) . Pengukuran mikrotremor dilakukan PVMBG, 2021 di Desa Batudinding, Desa Abangsongan, Kecamatan Kintamani; Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku; Desa Tiga, Kecamatan Susut; dan Desa Kayubihi, Kecamatan Bangli,memperlihatkan bahwa pada lokasi kerusakan bangunan umumnya terletak pada kelas tanah D (tanah sedang dengan nilai Vs30 berkisar antara 175 m/det hingga 350 m/det) dan E (tanah lunak dengan nilai Vs30 kurang dari 175 m/det), serta ada beberapa lokasi yang mempunyai jenis tanah kelas C (batuan lunak dengan nilai Vs30 berkisar antara 350 m/det hingga 750 m/det).

*.*.jpg

 Gambar 7. Peta Vs30 regional Indonesia, P.Bali memiliki Vs30=200-500 m/det.

*.*.jpg

Gambar 8. Peta PGA regional Indonesia pada SB, 2% probabilitas dalam 50 tahun

(SNI 1726:2019)

*.*.jpg

Gambar 9. Peta PSA Ss=0,2 det regional Indonesia pada SB, 2% probabilitas dalam 50 tahun

(SNI 1726:2019)

*.*.jpg

Gambar 10. Peta PSA S1= 1 det regional Indonesia pada SB, 2% probabilitas dalam 50 tahun

(SNI 1726:2019)

Kerusakan geologi, bangunan gedung dan non gedung seperti rumah rumah penduduk akibat guncangan kuat gempabumi di P. Bali ini terletak pada wilayah dengan PGA=0,4-0,5 g, PSA Ss 0,2det= 0,8-0,9 g dan PSA S1 1det=0,3-0,4g, pada situs SB, 2 % dalam 50 tahun (SNI 1726:2019).

Penilaian potensi kegempaan di wilayah terdampak bencana gempabumi pada peristiwa gempabumi pada kelas situs SD dan SC adalah sebagai berikut:

Tabel 2. Parameter Guncangan Tanah untuk kelas situs SD di wilayah terdampak bencana

*.*.jpg

Tabel 3. Spektral desain elastik untuk gedung dan non gedung, pada kelas situs SD di wilayah terdampak bencana

*.*.jpg

*.*.jpg

Gambar 11. Respons spektra desain elastik untuk gedung dan non gedung, pada kelas situs SD dengan Ss= 0,9 g dan S1 = 0,4 g di wilayah terdampak bencana

Tabel 4. Parameter Guncangan Tanah pada   kelas situs SC di wilayah terdampak bencana

*.*.jpg

Tabel 5. Spektral desain elastik untuk gedung dan non gedung, pada klas situs SC di wilayah terdampak bencana

*.*.jpg

*.*.jpg

Gambar 12. Respons spektra desain elastik untuk gedung dan non gedung, pada kelas situs SC dengan Ss= 0,9 g dan S1 = 0,4 g di wilayah terdampak bencana

Tabel 6. Parameter guncangan tanah pobabilistik, kategori risiko dan desain seismik untuk setiap kelas situs SC dan SD di wilayah terdampak bencana

 

*.*.jpg

Hasil analisis ini menunjukan beberapa hal pokok yang perlu mendapat perhatian sebagai berikut:

  1. Gempabumi Bali 16 Oktober 2021 ini bersumber di Patahan Aktif Mendatar Menganan Baratlaut G.Agung, dengan panjang 15,85 km; kekuatan maksimum 5.9 Mw dan pergeseran maksimum di lapangan pada batuan Gunungapi Kuarter 0.28 meter
  2. Guncangan tanah kuat gempabumi di daerah kerusakan yang terjadi pada batuan gunungapi muda Kuarter G. Agung dan Batur di sebabkan pusat gempabumi yang dangkal dan derada di dekat daerah kerusakan yang dipicu oleh faktor amplifikasi pada batuan/tanah setempat yang bersifat lepas dan lunak (tidak terkonsulidasi).
  3. Morfologi gunungapi berupa gawir kawah tua G. Batur yang terjal serta morfologi lereng gunungapi dan lereng lembah-lembah sungai yang terjal, memicu bencana ikutan (Colateral Hazard) seperti longsor, tanah retak dan terbanan.
  4. Dianjurkan pada pemerintah setempat dan masyarakat, untuk membangun bangunan gedung dan non gedung termasuk rumah-rumah tinggal yang baik dan benar, sesuai dengan katagori desain seismik yang telah ditentukan sesuai dengan SNI 1726:2019.
  5. Bangunan gedung dan non gedung yang belum atau tidak mengikuti tatacara pembangunan gedung dan non gedung sesuai SNI 1726:2019, dianjurkan dikaji ulang dan diperkuat sesuai ketentuan SNI 1726:2019 tersebut diatas.
  6. Sosialisasi potensi bencana gempabumi dan resiko serta pembangunan bangunan tahan gempabumi sesuai ketentuan SNI 1726:2019, sebaiknya dapat dilaksanakan sedini mungkin dan dilakukan secara berkesinambungan.
  7. Pembuatan buku pedoman pembangunan bangunan gedung dan non gedung yang baik dan benar sesuai SNI perlu dilakukan dan disebarkan kepada Pemda dan masyarakat untuk dapat diterapkan.

 

Lampiran Gambar :

 

*.*.jpg

 

*.*.jpg

 

*.*.jpg

 

*.*.jpg

 

*.*.jpg