Medan Magnet Bumi dan Interpretasi Struktur Berdasarkan Euler Deconvolution

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada hari Jumat tanggal 30 Juli 2021 yang menghadirkan narasumber La Ode Muhammad Musafar, M.Sc. dengan topik materi "Medan Magnet Bumi dan Medan Magnet Antariksa” dan Hidayat, S.Si., M.T. sebagai narasumber kedua dengan topik materi "Aplikasi 1D Wavelet Transform dan Euler Deconvolution Pada Data Potensial Geofisika”. Geoseminar yang dimoderatori oleh G.M. Lucki Junursyah, S.T., M.T. ini diikuti oleh sekitar 240 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom dan Youtube.

 

Medan Magnet Bumi dan Medan Magnet Antariksa

La Ode Muhammad Musafar adalah Peneliti di Pusat Sains Antariksa, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Beliau telah menyelesaikan pendidikan magister di Earth and Planetary Science, Kyushu University pada tahun 2004 dengan bidang kepakaran di Fisika Ionosfer dan Magnetosfer. Minat riset beliau adalah hal-hal terkait Geomagnet, Fisika Magnetosfer, dan Fisika Sabuk Radiasi. Beliau telah menghasilkan banyak publikasi ilmiah terkait minat dan bidang yang digelutinya.

 

Medan magnet bumi yang dibangkitkan oleh dinamo inti Bumi merupakan medan magnet utama Bumi. Medan magnet ini cenderung dianggap tetap karena hanya mengalami perubahan cukup kecil dalam orde-tahun. Medan tersebut mengisi ruang di atas bumi dan meluas hingga jarak yang cukup jauh dari permukaan Bumi. Pada sisi lain, matahari merupakan sumber utama partikel bermuatan dan medan magnet di antariksa yang bersifat sangat dinamis. Kumpulan partikel bermuatan yang berada dalam keadaan plasma serta medan magnetnya dikenal sebagai angin surya dan medan magnet  antarplanet. Interaksi antara angin surya/medan magnet antar-planet dengan medan magnet Bumi pada daerah sekitar orbit Bumi menciptakan magnetosfer di antariksa Bumi. Selain itu, interaksi tersebut juga menciptakan berbagai sistem arus di magnetosfer/ionosfer Bumi. Dinamika sistem arus ini mengakibat medan magnet yang terekam pada permukaan bumi berubah secara dinamis. Dalam perspektif keilmuan magnet antariksa, perubahan ini ditinjau sebagai disturbansi magnetik  yang ditimbulkan oleh keberadaan angin surya. Disturbansi magnetik ini memiliki skala waktu mulai dari perioda gelombang ULF (ultralow frequency) hingga perioda orde-harian (variasi diurnal medan geomagnet). Variasi diurnal geomagnet secara dominan dipengaruhi oleh jumlah ionisasi partikel-partikel atmosfer-atas yang tercipta melalui pemanasan atmosfer-atas oleh radiasi matahari. Medan magnet induksi yang timbul akibat gerak plasma ionosfer ini memberi kontribusi pada peningkatan medan magnet yang terukur pada permukaan Bumi. Selain itu, disturbansi geomagnet dalam rentang ULF merupakan manifestasi langsung dari interaksi antara plasma angin surya dengan medan magnet Bumi. Gelombang ini dapat menjalar dan mencapai permukaan Bumi serta menciptakan riak-riak kecil tambahan pada hasil rekaman magnetometer di permukaan Bumi. Dalam perambatannya melewati lapisan magnetosfer dan ionosfer, gelombang tersebut dapat juga berinteraksi dengan plasma magnetosfer/ionosfer sehingga dapat menciptakan arus cincin maupun sabuk radiasi yang menjadi faktor utama di antariksa yang mempengaruhi pengukuran medan magnet di permukaan Bumi. Salah satu fenomena utama di daerah ekuator yang mempengaruhi medan magnet permukaan Bumi dikenal dengan sebutan badai magnet.

 

 

*.*.jpg

 

Aplikasi 1D Wavelet Transform dan Euler Deconvolution Pada Data Potensial Geofisika

Hidayat merupakan Penyelidik Bumi di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 2013 di jurusan Geofisika, Fakultas MIPA Universitas Indonesia dan menyelesaikan pendidikan magister di jurusan Teknik Geofisika, Fakultas Teknologi Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) Institut Teknologi Bandung pada tahun 2020. Saat ini beliau tergabung dalam kelompok kerja Geosains dengan spesialisasi metode Magnetotelurik dan Tomografi Seismik Pasif. Selama mengabdi di Pusat Survei Geologi, sejumlah tulisan ilmiah telah banyak terbit terkait bidang yang digelutinya.

 

 

*.*.jpg

 

Metode potensial geofisika pada zaman modern dapat dikatakan berkembang cukup pesat. Hal ini dibuktikan dari banyaknya instrumen-instrumen dengan ketelitian yang tinggi dan diimbangi dengan teknik akuisisi data yang memungkinkan para geosaintis untuk memperoleh data dengan resolusi tinggi. Kondisi ini memberikan stimulus bagi para geosaintis untuk melakukan pengembangan pengolahan sinyal untuk dapat mengekstrak setiap informasi dari data potensial yang beresolusi tinggi tersebut. Metode potensial sangat bermanfaat dalam pemetaan secara lateral, namun ambigu dalam pembuatan penampang vertikal. Untuk itu diperlukan data dukung sebanyak-banyaknya untuk mengetahui kedalaman benda anomali di bawah permukaan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan teknik pengolahan sinyal. Metode pengolahan sinyal yang cukup banyak berkembang dan digunakan adalah transformasi fourier untuk mengubah domain spasial/waktu ke dalam domain frekuensi untuk berbagai keperluan, seperti filtering dan interpretasi data. Namun, transformasi fourier juga memiliki batasan dalam penggunaannya, terutama bila berkaitan dengan sinyal non-stasioner, sehingga penggunaan transformasi wavelet mulai berkembang. Hasil dari transformasi wavelet dapat diekspresikan dalam dilasi dan translasi, yang memungkinkan untuk mentransformasi signal non-stasioner kedalam multiresolusi yang dapat ditampilkan dalam scalogram. Modulus maxima pada scalogram sudah cukup lama digunakan para peneliti untuk menentukan kedalaman dari suatu benda anomali. Selain dengan menggunakan transformasi wavelet, 3-D Euler Deconvolution juga dapat digunakan dalam menentukan kedalaman dari benda anomali. Modul 3-D Euler Deconvolution juga telah banyak diaplikasikan pada beberapa perangkat lunak komersil dan digunakan untuk menentukan struktur geologi bawah permukaan oleh beberapa ahli geofisika. Dengan metode 1-D Wavelet Transform dan 3-D Euler Deconvolution, ahli geofisika secara matematis dapat menentukan kedalaman sumber anomali bawah permukaan dan cukup applicable untuk digunakan sebagai a priori dalam pembuatan penampang vertikal.

 

Materi Geoseminar :

Pembicara pertama

Pembicara kedua

 

Link Sertifikat

Silahkan klik pada tautan berikut ini :

https://bit.ly/GeoseminarPSG03