Studi Endapan Batuapung Hitam dan Pemanfaatan Simulasi Numerik

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada hari Jumat tanggal 23 Juli 2021 yang menghadirkan narasumber Arief Prabowo, S.T. dengan topik materi "Studi Endapan Batuapung Hitam: Ignimbrit Gunungkawi Kaldera Batur, Bali, Indonesia” dan Wilfidrus Banggur, S.T. sebagai narasumber dengan topik materi "Pemanfaatan Simulasi Numerik dalam Mitigasi Bencana Aliran Piroklastik Gunungapi”. Geoseminar yang dimoderatori oleh Dr. Purnama Sendjaja, S.T., M.T. ini diikuti oleh sekitar 240 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom dan Youtube.

 

Studi Endapan Batuapung Hitam: Ignimbrit Gunungkawi Kaldera Batur, Bali, Indonesia

Arief Prabowo, ST merupakan Penyelidik Bumi di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana pada tahun 2013 di Teknik Geologi UPN Veteran Yogyakarta. Saat ini beliau tergabung dalam kelompok kerja Geosains dengan spesialisasi Geoheritage, Geokronologi, dan Petrologi. Selama mengabdi di Pusat Survei Geologi, sejumlah tulisan ilmiah telah banyak terbit terkait bidang yang digelutinya.

Telah ditemukan adanya batuapung hitam dalam satuan Ignimbrite Gunungkawi di Kaldera Batur, Bali, Indonesia. Lokasi penelitian berada di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali yang berjarak sekitar 8.5 Km dari tepian Kaldera Batur (Batur Caldera Rim). Metode dalam kajian batuapung hitam ini antara lain: Pengukuran massajenis batuapung secara kuantitatif; Petrografi, dan Geokimia XRF. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuapung hitam (BP1 & BP2) memiliki massajenis terukur lebih besar daripada batuapung abu-abu (GP1) dengan nilai massajenis berturut-turut sebesar 1.19 gr/cc, 1.24 gr/cc, dan 0.93 gr/cc. Batuapung hitam memiliki 10-15% komposisi kristal Olivin-klinopiroksen-plagioklas-magnetit, sedangkan batuapung abu-abu memiliki plagioklas dan klinopiroksen <5%. Menurut Paulick dan Franz (1997), perbedaan warna batuapung hitam dipengaruhi kehadiran mikrokristal magnetit, dimana hal ini dapat disebabkan karena proses pencampuran magma (magma mixing).

Batuapung hitam memiliki tekstur mafic micro-granular enclaves (MMEs) dan oscillatory zoning yang merupakan indikasi fase disekuilibrium evolusi magma sebagai akibat adanya pengisian kembali magma bersifat basa ke dalam magma yang bersifat asam pada sistem dapur magma Kaldera Batur (open magma system). Batuapung hitam memiliki kandungan SiO2 lebih sedikit daripada batuapung abu-abu dan batuapung putih. Komposisi Geokimia berupa TiO2, MgO, CaO, dan FeOt hampir dua kali lebih tinggi pada batuapung hitam daripada batuapung abu-abu. Penambahan komposisi TiO2, MgO, dan FeOt menunjukkan pengayaan komposisi mineral mafik (10% - 15%) pada batuapung hhitam. Penambahan nilai CaO mengindikasikan pengayaan Ca-plagioklas pada batuapung hitam dibandingkan batuapung abu-abu/putih yang didominasi oleh Na-plagioklas. Batuapung hitam merupakan penunjuk disekuilibrium evolusi magma, serta indikator proses erupsi dalam kondisi low magma discharge, low fragmentation level, dan low eruption column.

*.*.jpg

 

 

Pemanfaatan Simulasi Numerik dalam Mitigasi Bencana Aliran Piroklastik Gunungapi

Wilfidrus Banggur, ST adalah peneliti pada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral. Beliau merupakan lulusan dari Teknik Geologi Universitas Hasanudin, Makassar. Pada awal karirnya beliau bekerja sebagai exploration geologist di beberapa perusahaan pertambangan. Saat ini beliau menggeluti penyelidikan dan pemantauan gunungapi di Indonesia. Sejumlah publikasi sudah beliau hasilkan terkait bidang yang digelutinya.

Indonesia merupakan salah satu negara didunia yang memiliki banyak gunungapi aktif. Dan sebagian besar masyarakatnya hidup berdampingan dengan gunungapi. Aliran Piroklastik (Awan Panas) merupakan produk erupsi gunungapi yang berbahaya bagi manusia. Aliran massa Awan Panas merupakan campuran antara gas vulkanik yang panas, abu vulkanik, dan bebatuan dengan suhu dapat mencapai 1000°C dengan kecepatan aliran dapat mencapai 75 – 150 Km/jam.

*.*.jpg

 

Dengan suhu dan kecepatan yang tinggi, maka Aliran Piroklastik dapat menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Beberapa contohnya seperti yang pernah terjadi pada Gunungapi Sinabung, Gunungapi Semeru, Gunungapi Merapi dan Gunungapi Karangetang. Salah satu upaya mitigasi kebencanaan geologi terkait Aliran Piroklastik (Awan Panas) ini adalah dengan memanfaatkan simulasi numerik yang berusaha memodelkan sifat-sifat Aliran Piroklastik (Awan Panas) seperti Aliran Piroklastik merupakan aliran massa yang bergerak secara turbulen dengan densitas konstan sepanjang aliran dan menyebar secara radial dari sumber yang memiliki volume konstan (Huppert & Simpson, 1980). Pengembangan pola aliran massa dan momentum juga dilakukan dengan berdasarkan konsep Shallow Water sehingga aliran massa yang inkompresible dari akibat kecepatan gravitasi dan rotasi dapat diketahui (Bursik & Woods, 1996). Model Shallow Water merupakan bentuk turunan atau variasi dari persamaan konversi massa dan momentum Aliran Piroklastik (Denlinger & Iverson, 2004). Pergerakan material massa Aliran Piroklastik dalam bentuk 2D yang terdiri dari dua layer, dimana fokus perhitungan dilakukan pada dasar aliran atau basalt layer yang tersusun oleh material berbutir lebih kasar (Yamashita & Miyamoto, 1993). Dengan melakukan pemodelan numerik semacam ini maka arah Aliran Piroklastik yang mungkin terjadi dapat diprediksi, sehingga upaya mitigasi bencana dapat dilakukan sedini mungkin khususnya pada daerah berpenduduk padat. Simulasi numerik Aliran Piroklastik ini sangat mendukung peta rawan bencana (database peta zona bahaya) bahkan dapat dikombinasikan dengan berbagai variasi parameter lain sehingga menghasilkan suatu peta ancaman bahaya yang realtime untuk mendukung mitigasi bencana kegunungapian.

 

Materi Pembicara :

 

Pembicara pertama

Pembicara kedua

 

Link Sertifikat

Silahkan klik pada tautan berikut ini :

https://bit.ly/GeosminarPSG02