MIGAS NON KONVENSIONAL: JENIS DAN POTENSI DI INDONESIA

Geoseminar kembali hadir pada hari Selasa tanggal 27 Oktober 2020 dengan membawa tema “Migas Non Konvensional: Jenis dan Potensi di Indonesia”. Geoseminar dilaksanakan melalui aplikasi Zoom Webinar dan Youtube cukup menarik perhatian banyak peserta, terbukti dengan jumlah peserta yang mengikuti Geoseminar melalui media Zoom dan Youtube mencapai 250 peserta. Panitia Geoseminar menghadirkan dua narasumber dari Pusat Survei Geologi yang aktif melaksanakan penelitian dan survei di bidang migas non konvensional, beliau adalah Iwan Sukma Gumilar,S.T., M.Sc. dan Dr. Moh. Heri Hermiyanto Zajuli, S.T., M.T., Geoseminar ini dimoderatori oleh Indra Nurdiana, S.T., M.T. selaku Kepala Sub Bidang Migas Non Konvensional di Pusat Survei Geologi.

Migas Non Konvensional: Kenalan Yuk!

Narasumber pertama Geoseminar adalah Iwan Sukma Gumilar,S.T., M.Sc. merupakan peneliti ahli muda di Pusat Survei Geologi. Tema yang dibawakan terkait dengan Migas Non Konvensional merupakan hasil dari pelatihan Unconventional Oil and Gas Resources di KIGAM, Korea Selatan. Dalam pemaparan materinya, Iwan Sukma Gumilar,S.T., M.Sc. membahas mengenai sumber minyak non konvensional yang terdiri dari Heavy Oil/Oil Sands dan Oil Shale, serta sumber gas non konvensional terdiri dari Tight Gas, Shale Gas, Coal Bed Methane dan Gas Hydrate.

Iwan Sukma Gumilar,S.T., M.Sc. menjelaskan bahwa potensi migas non konvensional jauh lebih banyak dan beragam daripada migas konvensional, namun perkembangan teknologi dan biaya produksi menjadi tantangan untuk mendapatkan migas non konvensional yang berkualitas tinggi. Tantangan teknologi dan biaya produksi tersebut dipengaruhi oleh karakter dari migas non konvensional yang memiliki permeabilitas rendah dan viskositas yang tinggi.

*.*.jpg

 

Sumber minyak non konvensional salah satunya adalah Heavy Oil, yang didefinisikan sebagai minyak yang mempunyai nilai API kurang dari 22% dan nilai viskositas yang sangat rendah sehingga sangat susah untuk di produksi, diperlukan teknologi tinggi contohnya Steam Injector. Selanjutnya Oil Sands adalah hasil percampuran antara pasir, bitumen, lempung dan air. Bitumen adalah minyak yang memiliki densitas dan viskositas tinggi serta telah mengalami biodegradasi. Sumber minyak non konvensional selanjutnya adalah Oil Shale, merupakan kandungan organic yang masih tersimpan di source rock dan belum matang disebut sebagai kerogen. Kerogen perlu dipanaskan untuk mendapatkan minyaknya, dimana beberapa perusahaan telah mengembangkan metode produksi Oil Shale seperti Shell, Chevron, Exxon dan Mobil.

Iwan Sukma Gumilar,S.T., M.Sc. melanjutkan pemaparannya dengan menjelaskan mengenai sumber gas non konvensional yang terdiri dari Coal Bed Methane, Shale Gas, Tight Gas dan Gas Hydrate. Sumber gas non konvensional memiliki karakteristik yang berbeda dengan gas konvensional adalah seperti akumulasi gas terendapkan pada daerah yang luas, memiliki kondisi geologi yang lebih kompleks dan sumber gas, perangkap, reservoir berada pada lapisan batuan yang sama. Tight Gas memiliki nilai permeabilitas yang sangat rendah, sehingga tidak terjadi migrasi gas ke batuan reservoir dan perlu teknologi seperti Perforation dan Fracturing untuk memproduksi gasnya. Selanjutnya Shale Gas merupakan gas yang terperangkap di shale sebagai gas bebas dan mengisi pori-pori atau rekahan yang tersimpan di fragmen organic. Coal Bed Methane adalah gas yang tersimpan didalam lapisan batubara, dipengaruhi oleh karakteristik batubaranya, jenis isian gas dan permeabilitasnya. Terakhir adalah gas hydrate, merupakan natural gas yang terperangkap pada air membeku dengan struktur yang solid, berwujud seperti salju atau kristal es. Potensi sumberdaya gas hydrate cukup besar di dunia, berbagai pilot test telah dilakukan di banyak negara, namun sampai saat ini belum ada produksi gas dari sumber gas hydrate.

 

Oil Shale: Bagaimana Kabarmu?

Narasumber kedua adalah Dr. Moh. Heri Hermiyanto Zajuli, S.T., M.T. yang merupakan seorang peneliti ahli madya yang aktif melaksanakan penelitian dan survei di bidang migas non konvensional. Materi yang dibawakan adalah mengenai Oil Shale yang terdiri atas pokok diskusi antara lain sebaran serpih, metode eksploitasi, potensi oil shale Indonesia, serta peluangnya. Pengertian oil shale atau yang disebut juga kerogen serpih (bitumen padat) adalah batuan sedimen berbutir halus yang mengandung kerogen (campuran dari senyawa-senyawa kimia organik) yang merupakan sumber terbentuknya oil shale berupa hidrokarbon cair. Oil shale didefinisikan sebagai batuan sedimen ‘immature’ berbutir halus yang mengandung sejumlah besar material organic yang spesifik, yaitu alginit dan/atau bituminit yang apabila diekstraksi dengan dipanaskan (>550 °C) akan menghasilkan minyak yang mempunyai potensi ekonomis.

Klasifikasi oil shale berdasarkan sumber material organiknya terbagi menjadi terrestrial oil shale, lacustrine oil shale, dan marine oil shale. Sedangkan klasifikasi oil shale berdasarkan kandungan mineralnya terbagi menjadi carbonate-rich shale, siliceous shale, dan cannel shale. Adapun penyebaran oil shale di Indonesia cukup luas dikarenakan batuan serpih menempati hampir seluruh wilayah Indonesia yang mempunyai karakteristik berbeda-beda. Akan tetapi negara penghasil oil shale terbesar di dunia masih diduduki oleh Amerika Serikat. Metode dalam proses produksi ekstraksi oil shale ini dapat dilakukan secara ex-situ (mining), in-situ (retorting), dan surface retorting. Karakteristik oil shale atau batuan pembawa bitumen padat di Indonesia, berdasarkan kuantitas minyak yang dikandungnya, yaitu dapat dikelompokkan menjadi tiga (3) kelompok utama antara lain kelompok kandungan minyak sedang – tinggi (‘oil yield’ ≥10 l/ton - <248 l/ton), kelompok kandungan minyak rendah (‘oil yield’ <10 l/ton), dan kelompok berpotensi mengandung minyak. Formasi batuan pembawa bitumen padat Kelompok Kandungan Minyak Sedang – Tinggi tersebar di pulau-pulau utama Indonesia.

*.*.jpg

 

Adapun peluang yang muncul ketika produksi oil shale dilakukan antara lain adalah menambah cadangan hidrokarbon Indonesia, kebijakan desentralisasi akan memberi peluang daerah untuk memenuhi kebutuhan energi sendiri, peningkatan teknologi eksploitasi oil shale, serta pembaruan ilmu pengetahuan tentang migas non konvensional dan menambah wawasan yang ada. Akan tetapi selain peluang yang ada, terdapat juga kendala yang dihadapi dalam proses eksploitasi oil shale ini. Proses ekstraksi yang dilakukan pada oil shale lebih sulit dibandingkan dengan proses ekstraksi pada minyak konvensional, sehingga memungkinkan untuk memberikan dampak bagi lingkungan sekitar seperti timbulnya gas rumah kaca, polusi udara, maupun pencemaran air akibat pembuangan sisa limbah industri. Dengan demikian, Indonesia memiliki penyebaran serpih yang sangat luas dan melimpah, serta sebagian besar endapan serpih tersebut memiliki karakteristik yang belum matang sehingga sangat berpotensi sebagai oil shale. Akan tetapi pemanfaatannya masih memerlukan pengembangan teknologi yang mutakhir dan menjadi sangat penting untuk segera direalisasikan.

 

 

Materi Pembicara Pertama

Materi Pembicara Kedua

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

http://bit.ly/Geoseminar27Okt2020