KONDISI AIRTANAH INDONESIA

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada hari Rabu tanggal 23 September 2020 dengan tema “Kondisi Airtanah Indonesia” yang menghadirkan 3 narasumber, yaitu R. Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T., Dr.rer.nat. Budi Joko Purnomo, S.T., M.T., dan Agus M. Ramdhan, Ph.D. Geoseminar yang dimoderatori oleh Fajar Dwinanto, S.T., M.T. dari Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL), Badan Geologi ini diikuti oleh lebih dari 260 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom.

 

Konservasi Airtanah di Cekungan Airtanah Jakarta

Narasumber pertama adalah R. Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T yang juga merupakan Kepala Balai Konservasi Air Tanah, Badan Geologi. Beliau menyampaikan mengenai bagaimana konservasi air tanah di Cekungan Jakarta. Cekungan air tanah Jakarta termasuk kategori cekungan air tanah lintas provinsi karena sebagian wilayahnya di barat meliputi provinsi Jawa Barat dan di timurnya meliputi provinsi Banten. R. Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T menjelaskan secara ringkas stratigrafi Cekungan air tanah Jakarta yang meliputi batupasir tufan di bagian selatan, di wilayah utara ditempati endapan sungai muda dan pematang pantai. Kondisi hidrogeologi di Cekungan Jakarta adalah terdapat akuifer produktif dengan debit 5 liter perdetik di bagian tengah, dan akuifer produktif sedang di bagian tepi dari Cekungan airtanah Jakarta. Terkait dengan Cekungan air tanah Jakarta, R. Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T menyampaikan setidaknya ada 5 isu terkini, yaitu pencemaran limbah pada sungai dan air tanah, kuantitas air tanah semakin berkurang, pencemaran air asin pada sumur warga, pengambilan air tanah yang mengakibatkan hilangnya penghasilan negara dan krisis kualitas air bersih.

 

*.*.jpg

 

Balai Konservasi Air Tanah, Badan Geologi melakukan upaya-upaya untuk konservasi Cekungan air tanah di Jakarta seperti pelayanan rekomendasi teknis pengusahaan air tanah, pemantauan kualitas dan kuantitas air tanah di 220 sumur pengamatan, pemantauan land subsidence di 1000 titik pengamatan, pembangunan dan pengembangan teknologi konservasi air tanah, pelayanan data informasi air tanah secara elektronik dan terakhir adalah sosialisasi air tanah dan kampanye lingkungan.

Diakhir presentasinya, R. Isnu Hajar Sulistyawan, S.T., M.T menyampaikan perlu adanya strategi jangka panjang antara pemerintah pusat dan juga daerah terkait konservasi air tanah di Cekungan Jakarta. Strategi jangka panjang yang perlu diperhatikan adalah terkait masalah regulasi kontrol penggunaan air tanah, pembangunan artificial recharge, pemantauan dan pengawasan untuk mengetahui perubahan kondisi air tanah di Cekungan air tanah Jakarta.

 

Regulasi Airtanah di Indonesia

Narasumber kedua adalah Dr.rer.nat. Budi Joko Purnomo, S.T., M.T. yang merupakan Kepala Sub Bidang Pendayagunaan Airtanah di Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL), Badan Geologi. Materi yang disampaikan terbagi atas Milestone Pengaturan Airtanah di Indonesia, Pengelolaan Airtanah berbasis Cekungan Air Tanah (CAT), Perizinan Airtanah, dan Kondisi Airtanah.

 

*.*.jpg


Pengaturan atau regulasi airtanah di Indonesia sudah berkembang sejak masa penjajahan Belanda hingga sekarang. Dimana pada periode tahun 1970 hingga 2000, pengaturan airtanah mengacu pada UU Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan dan PP Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air. Periode tahun 2000 hingga 2013, pengaturan airtanah mengacu pada UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan PP Nomor 43 Tahun 2008 tentang Airtanah. Periode tahun 2014 hingga 2019, pengaturan airtanah mengacu pada UU Nomor 23 Tahun 2014 dan PP Nomor 121 Tahun 2015 tentang Tata Pengaturan Air. Sedangkan periode 2019 hingga sekarang, pengaturan airtanah mengacu pada UU Nomor 17 Tahun 2019 tentang Sumber Daya Air dan masih menunggu aturan turunan (Peraturan Pemerintah) yang berkaitan.

Pengelolaan airtanah berbasis Cekungan Air Tanah (CAT) menerapkan bahwa “One Basin, One Management” dimana pembagian kewenangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Provinsi) diatur berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2014. Sedangkan perizinan airtanah diatur berdasarkan kriteria kondisi airtanahnya. Kriteria kondisi airtanah dapat terbagi atas empat (4) zona konservasi air tanah, yaitu Zona Aman, Zona Rawan, Zona Kritis, dan Zona Rusak. Kondisi airtanah di Indonesia menunjukkan banyak Cekungan Air Tanah (CAT) yang sudah rusak. Beberapa CAT lain kondisinya juga semakin memburuk, dikarenakan oleh ketergantungan pada airtanah yang tinggi. CAT yang dikategorikan rusak antara lain CAT Serang-Tangerang, CAT Bogor, CAT Jakarta, CAT Karawang-Bekasi, CAT Pekalongan-Pemalang, CAT Semarang, CAT Karanganyar-Boyolali, CAT Denpasar-Tabanan, dan CAT Palangkaraya-Banjarmasin.

 

Fresh Groundwater: How Deep Can You Go?

Narasumber ketiga adalah Agus M. Ramdhan, Ph.D. selaku Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia dan dosen di Program Studi Teknik Geologi dan Teknik Airtanah, Institut Teknologi Bandung (ITB). Materi yang dibawakan berjudul “Fresh groundwater: How deep can you go? Insight from the Lower Kutai Basin” yang disusun oleh beliau dan Prof. Lambok M. Hutasoit. Berdasarkan World Health Organization (WHO), air yang dapat diminum harus memiliki nilai total dissolved solids (TDS) 0 – 1.000 mg/l. Sedangkan sumber air minum bawah tanah mengandung TDS kurang dari 10.000 mg/l dan memiliki kuantitas air yang cukup untuk cadangan air minum. Pada Cekungan Air Tanah Jakarta, sumur airtanah tawar terdalam adalah sumur Pondok Ranji sedalam 450 meter. Sedangkan pada Cekungan Air Tanah Bandung, sumur airtanah tawar terdalam adalah Rancaekek sedalam 280 meter. Sehingga air tawar atau payau tidak harus selalu berdasarkan fungsi dari kedalaman.

 

*.*.jpg

 

Dalam studi kasus di Cekungan Kutai Bawah, air meteoric (fresh water) dihipotesiskan dapat menembus kedalaman 10.000 ft (~3 km) di onshore dan sampai kedalaman 6.500 ft (~2 km) di offshore. Batas antara airtanah meteorik dan airtanah asin dapat ditunjukkan oleh pembacaan log resistivitas dan crossplot nilai log densitas dan sonik yang menunjukkan diagenesis dari mineral lempung smektit – Illit. Hasil plot nilai tekanan (pressure) berdasarkan kedalaman yang menunjukkan sedikit zona overpressure, maka mengindikasikan daerah discharge dari system aliran airtanah regional.

Dan terbukti bahwa airtanah meteorik dapat berada hingga kedalaman 6.500 ft (~2 km) di area offshore. Tingkat salinitas tidak harus selalu meningkat seiring dengan kedalaman. Dimana pemanfaatannya sangat memungkinkan dengan teknologi pemboran mutakhir. Airtanah dalam ini sebaiknya dimanfaatkan untuk kepentingan industri, sedangkan airtanah dangkal dapat difokuskan untuk kepentingan masyarakat.

 

Materi pembicara pertama

Materi pembicara kedua

Materi pembicara ketiga

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

http://bit.ly/Geoseminar23Sep2020