GEOLOGI KUARTER

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada hari Selasa tanggal 15 September 2020 dengan tema “Geologi Kuarter” yang menghadirkan 2 narasumber, yaitu Ir. Ipranta M.Sc. dan Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. Geoseminar yang dimoderatori oleh Akbar Cita, S.T., M.Sc. selaku Kepala Subbidang Pemetaan Sistematik di Pusat Survei Geologi ini diikuti oleh lebih dari 270 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom.

 

Identifikasi Endapan Lepas (Kuarter) di Kawasan Pesisir, Berdasar Proses Kebumiannya

Narasumber pertama adalah Ir. Ipranta, M.Sc. yang merupakan seorang penyelidik bumi di Pusat Survei Geologi. Beliau aktif dalam penelitian terkait endapan lepas (Holosen), penginderaan jauh pesisir, dan pengelolaan pesisir. Dalam penyampaian materinya, beliau menjelaskan mengenai pengenalan / identifikasi endapan lepas (Kuarter / Holosen) di kawasan pesisir. Mengapa endapan lepas dan pesisir menjadi subjek utama dalam materi ini antara lain dikarenakan luasnya endapan yang berumur Kuarter di Indonesia (sedimen Kuarter). Selain itu, endapan Kuarter merupakan endapan yang sangat labil sehingga mudah mengalami perubahan. Kegiatan pembangunan juga banyak menempati wilayah endapan Kuarter, dikarenakan kemudahan ketersediaan sumberdaya sekaligus kebencanaan.

*.*.jpg

 

Endapan Kuarter (sedimen Kuarter) menempati kawasan pesisir sehingga aksesnya lebih mudah. Berdasarkan data dari Badan Informasi Geospasial (BIG), panjang garis pantai di Indonesia mencapai 99.093 km dengan luas area pesisir 7,7 juta km2 yakni wilayah darat 1,9 juta km2 dan wilayah perairan 5,8 juta km2 (KKP) yang sebagian besar ditempati oleh infrastruktur. Terdapat 7 (tujuh) parameter karakteristik endapan kuarter, yakni terdiri atas Kondisi Topografi dan Morfologi, Geomorfologi dan Geologi, Geodinamika Pantai, Hidro-Oseanografi, Lingkungan, Kebencanaan, dan Tata Guna Lahan. Sedangkan karakteristik pantai harus dapat dimanfaatkan untuk mitigasi bencana sesuai dengan institusi dan kepakarannya.

Pengambilan sampel endapan Kuarter dilakukan dengan cara pemboran. Sampel dari hasil pemboran dilakukan interpretasi lingkungan pengendapannya. Interpretasi endapan Kuarter juga dilakukan pada citra satelit. Kegiatan survei lapangan menghasilkan Peta Geologi Kuarter. Kemudian peta geologi tersebut di-overlay dengan citra satelit untuk diinterpretasi lebih lanjut. Interpretasi endapan Holosen juga dapat dilakukan dari data RBI dan SosBud.

Pemetaan dan Penelitian Geologi Kuarter Studi Kasus: Cekungan Jakarta dan Bandung

Isu terjadinya penuruan di Jakarta menurut beberapa kajian hal ini terjadi diakibatkan oleh pengambilan air tanah, pembebanan dan juga aktivitas tektonik. Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. yang menjadi narasumber kedua pada Geoseminar Geologi Kuarter menyampaikan hasil penelitian Geologi Kuarter di Cekungan Jakarta terkait analisis stratigrafi endapan kuarter untuk membahas terkait isu tersebut. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data log hasil pemboran sedalam 300 meter di 6 titik lokasi untuk analisis stratigrafi dan dikonfirmasi dengan analisis polen.

 

*.*.jpg

Berdasarkan analisis cyclostratigraphy, Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. menjelaskan bahwa di Cekungan Jakarta terbentuk 19 fasies pengendapan dari daerah Rawa Badak hingga Pasar Minggu. Hipotesa dari Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. bawah permukaan, diduga bahwa terdapat indikasi tektonik di selatan berupa Thrusting dan juga strike slip berarah relatif utara selatan di utara, sehingga penurunan di Jakarta bukan hanya karena pengambilan air tanah dan pembebanan, tetapi juga terdapat indikasi tektonik yang mempengaruhinya

Penelitian Geologi Kuarter juga dilakukan di Cekungan Bandung, berdasarkan peta geologi kuarternya, menurut Dam tahun 1992 bahwa Cekungan Bandung merupakan endapan danau yang terbentuk 125.000 tahun yang lalu dan dikelilingi oleh batuan volkanik muda. Penelitian Geologi Kuarter yang dilakukan oleh Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. berdasarkan data pemboran dengan kedalaman 60 meter di daerah Rancamanyar hingga Rancaekek. Dari data tersebut dihasilkan interpretasi kuarter bahwa terdapat evolusi dari endapan danau dan sungai purba. Pembagian sequences di cekungan Bandung terbagi kepada 4 berdasarkan siklus perubahan iklim cekungan Bandung, erupsi gunung api dan perubahan base level dari endapan danau.

Berdasarkan penelitian Geologi Kuarter di Cekungan Bandung, Rio Alcanadre Tanjung Moechtar, S.T. menjelaskan bahwa ada dugaan sesar mendatar di bagian utara memiliki kontribusi terkait pengendapan di daerah Cekungan Bandung. Selanjutnya perkembangan dari poros lingkungan danau adalah berasal dari arah selatan, sedangkan perluasan cekungan danau purba sebelumnya adalah ke arah utara yang selanjutnya menyusut akibat menurunnya intensitas tektonik dan berkurangnya volume air.

 

Materi Pembicara Pertama

Materi Pembicara Kedua

 

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

http://bit.ly/Geoseminar15Sep2020