GUNUNG API

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada hari Selasa tanggal 8 September 2020 dengan tema “Gunung Api” yang menghadirkan 3 narasumber dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), yaitu Dr. Devy Kamil Syahbana, Dr. Ir. Priatna, M.T., dan Dr. Ir. Hendra Gunawan. Geoseminar yang dimoderatori oleh Ruly Setiawan, S.T., Ph.D. selaku peneliti di Pusat Survei Geologi ini diikuti oleh lebih dari 290 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom.

 

100 Tahun Pemantauan Gunung Api Indonesia: Perkembangan dan Tantangan

Narasumber pertama adalah Dr. Devy Kamil Syahbana yang merupakan Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Dalam penyampaian materinya, Beliau menjelaskan perkembangan dan tantangan yang terjadi dalam 100 tahun pemantauan gunung api di Indonesia. Gunung api di Indonesia yang dikategorikan aktif terdapat sebanyak 127 gunung api. Sebesar 85% erupsi gunung api di Indonesia memiliki tingkat eksplosivitas atau VEI 0-3 dan sebesar 15% eksplosivitas nya VEI>4. Sedangkan, 42 gunung api di Indonesia erupsinya mengakibatkan kematian.

Pemantauan gunung api Indonesia telah berkembang sejak periode catatan kuno hingga saat ini. Adapun mulai tahun 1920, lahirlah institusi Vulkaan Bewakingdienst atau Dinas Pengamatan Gunung Api pada tanggal 16 September 2020 yang saat ini dikenal dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang merupakan bagian dari Badan Geologi, Kementerian ESDM. Perkembangan yang dialami meliputi beberapa aspek, mulai dari perkembangan pemantauan, peralatan, hingga sumber daya manusia yang bergerak di bidang vulkanologi.

 

*.*.jpg

 

Pencapaian selama 100 tahun pemantauan gunung api Indonesia antara lain, telah terbentuknya Sistem Pemantauan Gunung Api, Sistem Peringatan Dini Gunung Api, Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Api, the 1st Volcano Surveillance and Crisis Management Award dari IAVCEI, dan aplikasi MAGMA Indonesia. Sedangkan tantangan kedepan dalam pemantauan gunung api Indonesia antara lain, penambahan fungsi organisasi menjadi lebih luas, optimalisasi jumlah pegawai, penerapan Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2019, penelitian lanjut yang bervisi dan berkelanjutan khususnya pada gunung api dengan kejadian erupsi yang tidak biasa, serta adaptasi pada setiap perubahan kondisi yang dapat terjadi dengan cepat.

 

Penentuan Magmatisme Gunung Api melalui Pendekatan Gas dan Isotop

Narasumber kedua adalah Dr. Ir. Priatna, M.T. yang merupakan seorang penyelidik bumi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Beliau menyampaikan materi terkait penentuan magmatisme gunung api melalui pendekatan gas dan isotop dengan studi kasus di wilayah Dataran Tinggi Dieng dan Gunung Merapi. Dataran Tinggi Dieng merupakan kompleks gunung api di Jawa Tengah yang memiliki tinggi rata-rata 2200 meter dengan puncak tertinggi Gunung Prau (2565 meter), wilayahnya masuk Kabupaten Banjarnegara, Wonosobo, dan Batang. Sisa aktivitas vulkanik berupa gunung, kawah, dan lapangan panas bumi menjadi warisan geologi yang mempesona. Namun dibalik semua pesona tersebut, di kawasan yang membentang 14 x 6 km arah baratlaut – tenggara itu, ancaman gas beracun dan letusan freatik setiap saat mengintai. Sejak tahun 1375 tercatat bahwa terdapat 468 korban jiwa dan 50 terluka. Fokus pemantauan di wilayah tersebut terdapat di Kawah Sileri, Timbang, Sikendang, Candradimuka, Sikidang, dan Sibanteng.

 

*.*.jpg

 

Pengambilan sampel gas menggunakan tabung Giggenbach, sedangkan pengambilan sampel kondensat bertujuan untuk pendekatan isotop. Dalam menentukan tingkat magmatisme, diperlukan data gas SO2, H2S, H2 dan H2O dan persamaan kesetimbangan gas Giggenbach 1987 dan 1996. Selain itu, perhitungan suhu bawah permukaan juga perlu dilakukan. Pendekatan isotop ini dilakukan pada Gunung Merapi. Adapun fraksi Oksigen-18 digunakan sebagai pendekatan isotop. Pengukuran isotop dilakukan dengan menggunakan peralatan di BPPTKG, yaitu alat merk PICARRO L2130-I δD dan δ18O High-Precision Isotop Water Analyzer. Tahapan yang dilakukan antara lain, penentuan nilai air meteorik standar dan perhitungan fraksi percampuran isotop Oksigen-18.

Model konseptual sistem vulkanik Dataran Tinggi Dieng adalah gas yang muncul di permukaan mengalami proses degassing hidrotermal hasil pemanasan air meteorik di permukaan dan yang masuk kedalam celah. Sedangkan model konseptual sistem vulkanik Gunung Merapi adalah gas yang muncul di permukaan membawa magma dan terlepas pada zona yang dangkal yang disebut proses degassing sistem tertutup. Dapat disimpulkan bahwa data gas gunung api dapat digunakan untuk mengetahui suhu bawah permukaan dan mengetahui klasifikasi gunung api. Pendekatan isotop dapat digunakan untuk mengetahui fraksi pencampuran isotop Oksigen-18 yang dapat dianalogikan sebagai tingkat magmatisme gunung api.

 

Potensi Bahaya Erupsi Gunung Sinabung Pasca Perubahan Karakter Erupsi mulai 2018 - sekarang

Narasumber terakhir di kegiatan Geoseminar adalah Dr. Ir. Hendra Gunawan yang menjabat sebagai Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi. Dr. Ir. Hendra Gunawan menyampaikan mengenai potensi bahaya erupsi Gunung Sinabung yang telah mengalami perubahan karakter akibat erupsi dan letusan yang terjadi sejak 10 tahun terakhir. Gunung Sinabung terletak di utara dari Danau Toba di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara dan memiliki elevasi 2460 mdpl.

PVMBG telah melakukan penguatan sisi monitoring di Gunung Sinabung sejak tahun 2011 dan ketika erupsi terjadi pada tahun 2013 didapatkan hasil data tomografi seismik yang menunjukkan sebanyak 4846 gempa vulkanik, harapannya dengan data-data ini dapat mengetahui bagaimana proses kejadian erupsi Gunung Sinabung tersebut.

Dr. Ir. Hendra Gunawan menjelaskan bahwa pada 15 September 2015 Gunung Sinabung mulai erupsi lagi dengan kecenderungan semakin kuat dan intensif yang ditandai oleh letusan abu dgn tinggi kolom mencapai 12 km, awan panas bergerak ke sektor selatan-tenggara sejauh 5 km, aliran lava sejauh 3 km dan guguran lava pijar sejauh 2,5 km, sehingga pada 8 April 2014 PVMBG memberikan rekomendasi relokasi untuk desa desa yg berlokasi di dalam radius 5 km dalam sektor selatan-tenggara, yaitu Desa Gurukinayan, Berastepu, Gamber, dan Dusun Sibintun.

Seiring perubahan karakter erupsi Gunung Sinabung dengan perubahan arah awan panas yang berubah menjadi ke arah tenggara-timur sejauh lebih kurang 5 km dan intensifnya letusan abu sehingga pada 3 Juli 2015 PVMBG memberikan rekomendasi relokasi desa desa yg terletak di sektor timur-utara yg berada dlm radius 4 km yaitu Desa Sukanalu, Sigarang-garang, Mardinding, Kutatonggal dan Dusun Lau Kawar.

 

*.*.jpg

 

Gunung Sinabung kembali meletus dan disertai awan panas pada tanggal 10 Agustus 2020 pukul 10:16 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 5.000 m di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Karakter erupsi yang terjadi pada tahun 2020 memiliki karakter yang sama dengan yang terjadi pada tahun 2018.

 

Materi Pembicara Pertama

Materi Pembicara Kedua

Materi Pembicara Ketiga

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

http://bit.ly/Geoseminar08Sep2020