ARAH PENGEMBANGAN RARE EARTH ELEMENT (REE) INDONESIA KEDEPAN

Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM kembali melaksanakan kegiatan Geoseminar pada tanggal 6 Agustus 2020 dengan tema “Arah Pengembangan Rare Earth Element (REE) Indonesia Kedepan” yang secara khusus menghadirkan 4 narasumber antara lain, Dr. Ir. R. Sukhyar, Dr. Purnama S., S.T., M.T., Dra. Yuhelda, M.Si., dan Ir. Armin Tampubolon, M.Sc. Geoseminar yang dimoderatori oleh Dr. Asep Kurnia Permana, S.T., M.Sc. selaku Kepala Bidang Geosains Pusat Survei Geologi ini diikuti oleh lebih dari 470 peserta yang berpartisipasi melalui aplikasi Webinar Zoom.


Pengusahaan Rare Earth Element (REE)

Dr. Ir. R. Sukhyar hadir sebagai narasumber pertama yang merupakan Kepala Badan Geologi periode tahun 2008 – 2013 dan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM periode tahun 2013 – 2015. Materi yang dibawakan berjudul “Pengusahaan Pertambangan Rare Earth Element (REE) yang dilatarbelakangi bahwa REE atau Logam Tanah Jarang sebagai logam ‘critical metals’ di banyak negara dan hambatan suplai akan merontokkan industri high tech, sementara sumber pasokan sepenuhnya masih berada di tangan negara Tiongkok.

*.*.jpg

Kebijakan pemerintah Indonesia sangat menaruh perhatian pada pengembangan industri REE, tetapi dalam realitanya masih banyak kendala yang dialami negara kita. Contohnya, permasalahan regulasi PP Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pertambangan Minerba dan UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran, eksplorasi sumberdaya REE masih terbatas, pemetaan dan assessment penggunaan REE belum dilakukan, teknologi bahan baku intermediet serta aplikasinya belum dikaji, dan penelitian terkait REE tidak berkelanjutan dikarenakan oleh lemahnya komitmen dan pembiayaan yang terbatas. Sementara itu, PT. Timah Tbk. telah melakukan simulasi produksi mineral monasit dari berbagai sumber di Kawasan Babel yang sebenarnya sudah dapat dijadikan modal dalam melakukan industri pengolahan REE.

Salah satu jenis mineral REE adalah monasit yang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pertambangan Minerba dinyatakan sebagai mineral bersifat radioaktif. Sehingga dalam kegiatan pengembangan dan pengusahaan pertambangan mineral monasit perlu mengikuti peraturan yang telah diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Akan tetapi, regulasi tersebut sangat sulit diaplikasikan pada sektor bisnis dikarenakan oleh masih banyak kendala yang dialami. Seperti bagaimana pemerintah memilih badan usaha yang dapat bekerja sama dengan BATAN sebagai badan pelaksana serta kepastian badan usaha tersebut setelah melakukan eksploitasi non-komersial. Oleh karena itu, UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran tersebut perlu direvisi dalam UU Cipta Kerja. Dalam Rancangan UU Cipta Kerja telah dilakukan perbaikan dalam mengatur wilayah usaha pertambangan mineral REE ini, tetapi RUU ini terhambat oleh adanya UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Minerba-Perubahan yang tidak sejalan dengan RUU Cipta Kerja. Sehingga, masih diperlukan harmonisasi UU Cipta Kerja dengan UU Minerba.

Diakhir pemaparan materi, Dr. Ir. R. Sukhyar menyimpulkan bahwa Rancangan UU Cipta Kerja telah memberikan harapan pengembangan dan pengusahaan REE, tetapi belum dapat dipastikan kapan UU ini dibahas dan disahkan oleh DPR. Adapun pengusahaan REE disarankan agar dilakukan secara bertahap dari kapasitas kecil terlebih dahulu, serta kegiatan identifikasi dan karakterisasi sumberdaya REE baru perlu terus dilakukan dan penguasaan teknologi processing terkait perlu dilakukan secara mandiri.

 

Arah dan Potensi Rare Earth Element (REE)

Narasumber kedua adalah Dr. Purnama Sendjaja, S.T., M.T. yang merupakan seorang peneliti di Pusat Survei Geologi. Materi yang dibawakan berjudul “Arah dan Potensi Eksplorasi Rare Earth Element (REE) di Indonesia” yang dapat menjelaskan arah kegiatan eksplorasi REE ini kedepannya. REE dalam tabel periodik unsur kimia merupakan seri lantanida termasuk kedalamnya Skandium dan Yitrium. Di Indonesia, daerah yang memiliki potensi sumberdaya REE telah dipetakan oleh Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) yang pada tahun 2019 tercatat ada 29 daerah. Sedangkan mineral-mineral yang terkandung REE dapat meliputi Alanit, Apatit, Basnaesit, Eudialit, Fergusonit, Gadolinit, Monasit, Parisit, Xenotime, dan Zircon. Endapan mineral REE terbagi atas dua jenis, yaitu endapan primer dan endapan sekunder. REE banyak terdapat di zona rifting intra-kontinen dan semakin mendekati batas zona subduksi akan semakin sedikit potensi REE-nya. Adapun mineral pembawa REE umumnya berasosiasi dengan batuan granitik. Batuan granit sendiri terbagi atas empat klasifikasi, yaitu tipe-I, tipe-S, tipe-A, dan tipe-M. Granit tipe-A banyak mengandung mineral pembawa REE.

Penelitian terkait potensi REE ini meliputi berbagai metode seperti kajian pustaka, survei lapangan, analisis laboratorium, dan penyusunan laporan. Analisis laboratorium khususnya difokuskan pada analisis menggunakan alat ICP-MS sebagai analisis primer dan XRF sebagai analisis sekunder. Badan Geologi melalui Pusat Survei Geologi telah melakukan penelitian terkait potensi REE seperti di Pulau Sumatera yang dijumpai adanya potensi REE pada batuan granit di 4 daerah. Daerah tersebut antara lain Muara dan Tanjung Gadang, Sijunjung, Karimun, dan Bangka-Belitung.

*.*.jpg

Diakhir pemaparan materi, Dr. Purnama Sendjaja, S.T., M.T. menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumberdaya REE yang cukup baik, dimana target endapan REE tersebut dapat dijumpai pada endapan placer, batuan granit tipe-A, batuan beku alkaline-peralkaline primer, endapan laterit/residual, pelapukan/ion adsorpsion, dan batubara. Sedangkan arah eksplorasi REE di Pulau Sumatera mengikuti lajur timah (granit tipe-S) dan Medial Sumatera Zone (granit tipe-A).


Pengolahan dan Pemanfaatan Rare Earth Element (REE)

Bagaimana pengolahan dan juga pemanfaatan logam tanah jarang disampaikan oleh Dra.Yuhelda, M.Si, beliau adalah Perekayasa Utama di Pusat Survei Geologi. Dra. Yuhelda, M.Si menyampaikan pemanfaatan industri berbasis mineral logam tanah jarang meningkat disebabkan sifat-sifat yang dimiliki oleh logam tanah jarang seperti mempunyai medan magnet yang sangat kuat, tidak beracun, tahan terhadap panas tinggi, dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan paduan logam yang mudah dibentuk, menyerap gelombang elektromagnet dan radiasi, dapat di daur ulang. Kebutuhan logam tanah jarang di dunia semakin meningkat tajam terutama diprediksi pada tahun 2035 untuk keperluan pembuatan magnet, batu baterai dan banyak hal lainnya.

Penambangan dilakukan oleh PT TIMAH, hasil penambangan selanjutnya dipisahkan dari kasiterit, zirkon, mineral monasit, xenotim dan selanjutnya monasit di proses menjadi REE(OH)3. Nilai tambah mineral monasit dan xenotim menjadi meningkat setelah adanya pemanfaatan mineral logam tanah jarang oleh PT TIMAH.

Dra. Yuhelda, M.Si menjelaskan detail bagaimana proses produksi logam tanah jarang yang dimulai dari bijih selanjutnya dilakukan proses peremukan,penggerusan,proses pemisahan, logam tanah jarang dalam bentuk oksida selanjutnya direduksi menjadi logam, logam tanah jarang dipadukan untuk membuat paduan logam yang pemanfaatannya untuk diaplikasikan dalam teknologi maju untuk menciptakan energi ramah lingkungan, pengolahan air bersih, mobil listrik, industri bahkan pertahanan.

*.*.jpg

Pemanfaatan REE di Indonesia telah dilakukan oleh pihak pemerintah, swasta, dan juga universitas, salah satu contoh yang telah dikembangkan adalah pengolahan Gd2O3 dari REE(OH)3 oleh tekmira KESDM dan Kimia UNPAD untuk pemanfaatan dalam MRI Contrast Agent yang telah digunakan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Pengolahan REE masih banyak yang bersifat skala laboratorium, seperti pengolahan baterai hybrid oleh BPPT untuk membuat baterai isi ulang dan mobil listrik, pengolahan La2O3 oleh PTBGN BATAN untuk pembuatan cat kapal selam anti radiasi.

 

Program Percepatan Penyelidikan Sumber daya Cadangan Logam Tanah Jarang

Narsumber terakhir pada Geoseminar dengan tema Arah Pengembangan REE Indonesia kedepan adalah Ir. Armin Tampubolon, M.Sc , beliau adalah Perekayaa Utama di PSDMBP, Badan Geologi. Ir. Armin Tampubolon, M.Sc menyampaikan peran Badan Geologi untuk akselerasi pencapaian sumberdaya dan cadangan logam tanah jarang di Indonesia adalah menyediakan data dan informasi keterdapatan dan sumberdaya logam tanah jarang di Indonesia dan juga eksplorasi sumberdaya dan cadangan logam tanah jarang. Berdasarkan hasil Penyelidikan sumberdaya logam tanah jarang di Indonesia oleh PSDMBP bersama PT TIMAH, disampaikan oleh Ir. Armin Tampubolon, M.Sc estimasi teoritis logam (Ce, La,Nd, Pr, Sm, Gd dan Y) di lokasi Sumateraterdapat 19.917 ton, di Bangka Belitung 383.239 ton, Kalimantan 219 ton, Sulawesi 443 ton dan IUP Timah Babel dan Kepri 180.323 ton.

Ir. Armin Tampubolon, M.Sc menyampaikan kegiatan rutin yang dilakukan PSDMBP, Badan Geologi adalah penemuan daerah prospek baru dan peningkatan status sumberdaya melalui eksplorasi sistematis dan rinci. Rencana jangka pendek dan menengah adalah daerah potensi logam tanah jarang dan IUP Op Sn 1,5 juta Hektar dan usulan WIUP logam tanah jarang. Rencana jangka panjang adalah terbentuknya industri logam tanah jarang nasional dengan eksplorasi sumberdaya terukur cadangan logam tanah jarang pada daerah indikasi dan prospek.

*.*.jpg

 

Ir. Armin Tampubolon, M.Sc menjelaskan mengenai lokasi target-target potensi logam tanah jarang untuk akselerasi pencapaian jangka pendek dibagikan kepada 4 klaster. Di daerah sumatera terdapat 2 kluster, yaitu Kluster I adalah granit Sibolga dengan tipe endapan adalah pelapukan dari granit sibolga, estimasi sumberdaya sebanyak 4,4 juta ton logam tanah jarang atau sebanyak 0,4 % Rekomendasi IUP LTJ. Klaster II tipe endapan alluvial dan primer di Bangka Belitung dan Kepri, perlu dilakukan eksplorasi yang sistematis dan detail. Klaster III di daerah Kalimantan, ada kesulitan karena mineral logam tanah jarang terdapat di dalam mineral zirkon untuk sumberdaya perlu dilakukan penyelidikan umum hingga eksplorasi detail yang sistematis. Klaster IV didaerah sulawesi barat, sekitar Mamuju, tipe endapannya berasal dari pelapukan. Hal unik dari Klaster IV ini adalah keterdapatan logam tanah jarang berasal dari produk gunung api.

 

Unduh materi pembicara pertama

Unduh materi pembicara kedua

Unduh materi pembicara ketiga

Unduh materi pembicara keempat

 

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

https://bit.ly/SertifikatGS06Aug2020