GEOFISIKA UNTUK EKSPLORASI MIGAS DAN KEBENCANAAN

 

Geoseminar kembali hadir pada tanggal 9 Juli 2020 dengan mengangkat tema Geofisika Untuk Eksplorasi Migas dan Kebencanaan. Menghadirkan dua narasumber dari Pusat Survei Geologi yaitu Marjiyono, S.Si, M.T dan G. M. Lucki Junursyah, S.T., M.T. Geoseminar yang dimoderatori oleh Asep Kurnia Permana, S.T., M.Sc selaku Kepala Bidang Geosains Pusat Survei Geologi ini diikuti oleh 420 peserta yang join melalui aplikasi Zoom.

 

Passive Seismic Tomography : Sebuah Pendekatan Baru Dalam Eksplorasi Hidrokarbon Di Daerah Tutupan Vulkanik : Studi Kasus Cekungan Banyumas

Narasumber pertama di kegiatan Geoseminar adalah Marjiyono, S.Si, M.T, beliau adalah peneliti di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi. Marjiyono, S.Si, M.T menjelaskan bahwa passive seismic tomography merupakan penggambaran bawah permukaan berdasarkan gelombang seismik, sumber gelombang seismik yang digunakan berasal dari gempa bumi. Studi kasus yang dipilih adalah Cekungan Banyumas, meskipuan banyak ditemukan rembesan minyak dan gas, namun sebagaimana diketahui bahwa beberapa eksplorasi migas yang telah dilakukan di cekungan Banyumas mengalami kegagalan. Kendala yang dihadapi adalah adanya tutupan volkanik, sehingga penggambaran bawah permukaan dengan metoda seismik konvensional tidak berhasil mencitrakan kondisi geologi di daerah cekungan Banyumas dengan baik. Penelitian passive seismic tomography diharapkan dapat menjadi suatu pendekatan baru eksplorasi daerah tutupan volkanik, dan diharapkan dapat memberikan informasi bawah permukaan yang lebih baik.

 

*.*.jpg

 

Marjiyono, S.Si, M.T juga menjelaskan mengenai konsep dasar akuisisi passive seismic tomography. Akuisisi passive seismic tomography di daerah penelitian adalah dengan cara membuat jaringan seismik di banyak titik,dimana tiap titik akan dipasang alat yang akan merekam aktivitas gempa bumi dalam beberapa bulan. Setelah perekaman aktivitas gempa bumi dilakukan, selanjutnya mengidentifikasi dan picking event gempa bumi dalam radius 150 km dari jaringan seismik sebagai sumber gelombang dan melakukan koreksi terhadap noise yang terekam oleh alat. Dalam akusisi passive seismic tomography, parameter yang dihasilkan gelombang P dan gelombang S dapat digunakan untuk interpretasi litologi atau formasi batuan, sedangkan ratio Vp/Vs dan Poisson ratio dapat mengidentifikasi karakteristik reservoir atau prediksi akumulasi fluida hidrokarbon.

Pada studi Kasus di cekungan Banyumas, hasil akuisisi passive seismic tomography dikorelasikan dengan citra anomali sisa gaya berat. Identifikasi batuan berdasarkan kedua metoda tersebut diinterpretasi bahwa batuan bisa dibagi kepada 5 jenis, yaitu batuan dasarnya adalah basaltic, kemudian batuan diatasnya adalah batuan sedimen berumur eosen yang diinterpetasi batuan induk dari minyak yang merembes di permukaan, selanjutnya adalah batuan formasi Gabon, selanjutnya adalah batuan dari formasi Halang, Rambatan dan Penanjung yang digabung menjadi satu karakteristik yang sama, dan lapisan paling atas adalah batuan dari formasi Kumbang. Hasil interpretasi data Vp/Vs passive seismic tomography mengindikasikan adanya area play di bagian selatan Cekungan Banyumas yang berasosiasi dengan perangkap antiklin.

Diakhir pemaparannya, Marjiyono, S.Si, M.T menyampaikan bahwa integrasi metode geofisika seperti passive seismic tomography dan gaya berat yang didukung data geologi dan data geokimia, berhasil memberikan gambaran kondisi geologi bawah permukaan serta play pada daerah tutupan vulkanik. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan tersebut di atas cukup efektif untuk mencitrakan kondisi bawah permukaan pada sistem vulkanik.

 

Aplikasi Metode GPR dan Gradiomagnet untuk Identifikasi Kondisi Geologi dan Objek Bawah Permukaan Dangkal

Narasumber kedua adalah G. M. Lucki Junursyah, S.T., M.T. selaku Kepala Sub Bidang Geofisika Dasar dan Terapan di Pusat Survei Geologi. Dalam penyampaian materi, terdapat tiga studi kasus antara lain Rekomendasi Wilayah Relokasi dan Rehabilitasi Pasca Bencana Tsunami dan Gempa Bumi di Daerah Palu dan Sekitarnya, Identifikasi Objek Bawah Permukaan akibat Adanya Semburan Lumpur Minyak di Daerah Kutisari-Surabaya Berdasarkan Metode GPR, dan Identifikasi Objek Bawah Permukaan di sekitar wilayah kantor Menteri ESDM Berdasarkan Metode GPR dan Gradiomagnet.

Metode GPR adalah salah satu metode geofisika yang menggunakan gelombang elektromagnet yang dipenetrasikan ke bawah permukaan untuk melihat bagaimana respon dari bawah permukaan. Pada prinsipnya metode ini sederhana dan praktis. Sedangkan metode Gradiomagnet pada dasarnya sama dengan metode geomagnet biasa. Tetapi metode Gradiomagnet lebih digunakan pada penelitian berskala besar.

Studi rekomendasi wilayah relokasi dan rehabilitasi pasca bencana tsunami dan gempa bumi di daerah Palu dan sekitarnya dilatarbelakangi bahwa pada tanggal 28 September 2018 pukul 17:02:44 WIB terjadi gempabumi dengan magnitude 7,4 Mw akibat aktivitas zona Sesar Palu Koro yang diikuti oleh kejadian Tsunami. Badan Geologi menurunkan Tim Tanggap Darurat dan dilanjutkan oleh Tim Rekomendasi Wilayah Relokasi dan Rehabilitasi yang dimulai dari awal bulan Oktober 2020. Penelitian dilakukan di beberapa daerah antara lain daerah Balaroa, Duyu, dan Talise bagian utara.

 

*.*.jpg

 

Berdasarkan hasil penelitian, diinterpretasi terdapat zona lemah dimana adanya struktur geologi permukaan, zona potensi dan hancuran, dan gerakan masa batuan. Lapisan konduktif yang mengalasi lapisan resistif mendekati permukaan sehingga nilai anomali magnet tinggi. Nilai anomali magnet tinggi menunjukkan periode dominan tanah tinggi. Sehingga wilayah rekomendasi hasil interpretasi GPR dan Gradiomagnet ditujukan pada area Talise-01.

Identifikasi objek bawah permukaan akibat adanya semburan lumpur minyak di daerah Kutisari-Surabaya berdasarkan metode GPR dilatarbelakangi oleh adanya permohonan pemeriksaan dan penanganan semburan lumpur minyak di Kutisari-Surabaya dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya pada tanggal 28 September 2019. Berdasarkan pengukuran lintasan KIU-02 teridentifikasi enam lapisan batuan hingga kedalaman 20 meter dan adanya indikasi bekas pemboran tua, serta terlihat anomali yang lebar diinterpretasi sebagai bekas kompleks pemboran atau zona lemah. Sehingga disimpulkan bahwa semburan lumpur minyak kemungkinan berasal dari pemboran yang terletak di kedalaman 4 meter.

Sedangkan, identifikasi objek bawah permukaan di sekitar wilayah kantor Menteri ESDM berdasarkan metode GPR dan Gradiomagnet dilatarbelakangi oleh surat permohonan bantuan teknis survei GPR untuk penentuan letak bangunan bawah permukaan pada gedung kantor dan rumah dinas Menteri ESDM. Pengukuran metode Gradiomagnet dan GPR dilakukan di jalan samping Gedung Heritage dan taman samping Gedung Sarulla.

Di akhir penyampaiannya, G. M. Lucki Junursyah, S.T., M.T. mengutip Surah An-Naml ayat 88 yang berisi “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu: sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” dimana menjelaskan bahwa Bumi bersifat dinamik sehingga diperlukan peran serta ilmu geologi dan geofisika.

 

Unduh materi pembicara pertama

Unduh materi pembicara Kedua

 

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link berikut pada browser anda

https://bit.ly/Geoseminar9Juli2020