PEMANFAATAN CITRA LANDSAT DAN AIRBORNE DALAM SURVEI GEOLOGI

Perubahan Muara Bodri 1972-2017 Diinterpretasi Pada Citra Landsat dan Pengaruhnya Terhadap Pantai Kendal, Jawa Tengah

Ir. Sidarto, M.Si. yang merupakan Peneliti Utama di Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM hadir sebagai salah satu narasumber di acara Geoseminar 2020 yang kali ini mengangkat tema “Pemanfaatan Citra Landsat dan Airborne dalan Survei Sumber Daya Geologi”. Beliau menyampaikan materi berjudul “Perubahan Muara Bodri 1972 – 2017 Diinterpretasi pada Citra Landsat dan Pengaruhnya terhadap Pantai Kendal, Jawa Tengah”.

Di Dataran Kendal terdapat lima sungai utama yang mengalir antara lain Sungai Bodri, Sungai Cangkring, Sungai Blukar, Sungai Damar, dan Sungai Koto. Adapun Sungai Bodri mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) paling luas dan muara sungainya sangat dinamis. Sedangkan Landsat merupakan salah satu satelit penginderaan jauh milik Amerika Serikat yang memiliki keunggulan resolusi temporal dan spasial, cakupan sangat luas, proyeksi orthogonal, diperoleh dalam format digital, mudah, dan gratis.

*.*.jpg

Citra Landsat yang digunakan pada studi ini meliputi empat generasi Landsat yang terdiri dari MSS (1972), TM (1992), ETM+ (2001), dan LDCM (2017). Selain itu, digunakan juga Citra SPOT 6 sebagai pembanding dengan Citra Landsat. Sedangkan Citra DSM TerraSar-x digunakan pada area Sungai Bodri bagian hulu untuk mengetahui kondisi geologinya.

Pada pra-1972 bentuk muara Sungai Bodri di Pantai Kendal diinterpretasi berdasarkan Peta Topografi. Berdasarkan Citra Landsat MSS, pada tahun 1972 bentuk Pantai Kendal mengalami perkembangan ke arah timur dan bertambah luas ke arah laut. Citra Landsat TM (pada tahun 1992) menunjukkan bentuk Pantai Kendal semakin meluas ke arah laut dan sisi barat nya mengalami abrasi ke arah timur. Kemudian jika dibandingkan kembali dengan Citra Landsat ETM+ pada tahun 2001, di sisi baratlaut muara Sungai Bodri terdapat banyak material yang terendapkan. Pada tahun 2017 melalui Citra Landsat LDCM terlihat bahwa semakin banyak material yang terendapkan sehingga semakin menjorok ke arah laut.

Di akhir pemaparannya, Ir. Sidarto, M.Si. menyimpulkan bahwa muara Sungai Bodri dari tahun 1972 hingga 2017 telah mengalami tiga kali perubahan. Perubahan ini disebabkan oleh kondisi DAS Sungai Bodri bagian hulu yang tersusun oleh batuan mudah tererosi dan dipicu oleh penambahan lahan terbuka akibat aktivitas manusia. Selain itu, energi laut di sekitar Pantai Kendal juga menjadi salah satu faktor penyebab. Energi laut dipengaruhi oleh gelombang laut barat dan peningkatan gelombang laut mungkin disebabkan oleh pemanasan global.

Survei Airborne Resolusi Tinggi Magnetik dan Radiometri Sebagai Data Dasar Eksplorasi

Narasumber kedua pada kegiatan Geoseminar ini adalah Nurmaliah,S.Si, Penyelidik Bumi Pusat Survei Geologi yang telah mengikuti beberapa kegiatan survei Airborne dan menulis beberapa publikasi ilmiah mengenai Airborne Magnetik dan Radiometri. Judul presentasi yang disampaikan Nurmaliah,S.Si adalah “Survei Airborne Resolusi Tinggi Magnetik dan Radiometri Sebagai Data Dasar Eksplorasi”, tema ini diangkat karena data dasar geologi dan geofisika di Indonesia saat ini masih sangat diperlukan dalam beberapa aspek seperti untuk mengejar penemuan Giant Field minyak dan gas bumi, menemukan potensi sumber daya mineral mineral yang baru dan juga sebagai data dasar untuk keperluan mitigasi bencana dan tata ruang wilayah.

Dikarenakan kepentingan akan data tersebut, sehingga perlu dilakukan survei geologi dan geofisika terpadu di banyak tempat di Indonesia, terutama di daerah timur dalam waktu yang relatif singkat mengingat kebermanfaatan data. Daerah Indonesia timur memiliki topografi yang ekstrim di banyak tempat sehingga menghadirkan keterbatasan dalam kesampaian daerah untuk melakukan survei, sehingga survei Airborne Magnetik dan Radiometri yang dilakukan oleh Pusat Survei Geologi mencoba untuk menjawab tantangan ini.

Nurmaliah,S.Si menyampaikan bahwa survei Airborne Magnetik dan Radiometri telah dilakukan oleh Pusat Survei Geologi dari tahun 2010 hingga 2017, mencakup daerah Arafura Selatan, Maluku dan Kep. Kei, Mamberamo, Mapenduma, Jayapura Selatan dan Ubrub. Survei Airborne Magnetik dan Radiometri menggunakan helikopter di daerah yang topografi ekstrim dengan bukit terjal dan menggunakan fixed wings di daerah dataran rawa seperti di Merauke dan Papua Selatan.

Aplikasi survei Airborne Magnetik dan Radiometri dalam bidang Migas salah satunya adalah berhasil melakukan delineasi Cekungan maupun subcekungan di daerah Papua Selatan. Berdasarkan interpretasi data Airborne Magnetik dan Radiometri Arafura Selatan ditemukan 12 Subcekungan yang dibatasi tinggian dari batuan pra-tersier, selanjutnya data Airborne di daerah Jayapura Selatan juga berhasil mendelineasi cekungan Jayapura. Data-data ini bersifat strategis dikarenakan beberapa cekungan di daerah perbatasan Indonesia timur ini berdasarkan data Airborne Magnetik dan Radiometri masih menerus ke negara tetangga yaitu Papua Nugini.

*.*.jpg

Aplikasi survei Airborne Magnetik dan Radiometri dalam bidang mineral adalah mendelineasi potensi-potensi endapan mineral ekonomis dan potensi endapan uranium. Berdasarkan interpretasi data Airborne Magnetik dan Radiometri di Papua Selatan, diinterpretasi adanya intrusi Monzonite-Diorite di dekat daerah perbatasan. Intrusi Monzonite-Diorite ini diyakini memiliki karakteristik yang sama dengan Intrusi di Grasberg dan Ok Tedi (Papua Nugine). Potensi sumberdaya mineral lainya adalah diinterpreasi adanya endapan porphyry, endapan skarn dari data Airborne Magnetik dan Radiometri daerah Ubrub dan Jayapura Selatan. Potensi uranium diintepretasi keberadaannya berdasarkan data Airborne Radiometri, potensi uranium ini diinterpretasi berada di daerah Timika, Ubrub, dan Mapenduma. Ditemukan adanya akumulasi uranium ini diinterpretasi dari peta ternary radiometri, diperkuat dengan data equivalent Uranium dan data Ratio U/Th.

Diakhir pemaparannya, Nurmaliah,S.Si menyampaikan bahwa survei Airborne Magnetik dan Radiometri berhasil mendapatkan data dasar eksplorasi strategis dengan cakupan area yang luas dalam waktu yang cepat. Hal ini dibuktikan dengan data Airborne Magnetik dan Radiometri berhasil melokalisir indikasi dan potensi daerah mineralisasi dan cekungan-cekungan migas di daerah Indonesia timur.

Unduh Materi Pembicara Pertama

Unduh Materi Pembicara Kedua

Klik pada tulisan ini untuk download sertifikat

atau copy dan paste link dibawah ini

https://bit.ly/SertifikatGeoseminar25Juni2020

 

Aji Suteja, B.Sc & Nurul Isnania Putri, S.T