Sulawesi : Tektonik dan Potensi Sumberdaya Migas & Emas

Geoseminar pada tanggal 11 Juni 2020 kembali hadir dengan mengangkat tema “SULAWESI, Tektonik dan Potensi Sumber Daya (Migas dan Emas)”. Narasumber pertama adalah adalah Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, S.T., M.Phil.IPM, merupakan Guru Besar Teknik Geologi dan Kepala Pusat Studi Kebencanaan di Universitas Hasanuddin, narasumber kedua adalah Dr.rer.nat Ir. Arifudin Idrus,ST.,MT.,IPU merupakan associate Professor in Economic Geology Universitas Gajah Mada. Pemaparan materi kedua narasumber pada kegiatan Geoseminar ini dimoderatori oleh Rully Setiawan S.T., Ph.D yang merupakan peneliti dari Pusat Survei Geologi.

Petrology, geochemistry and geochronology of Mesozoic Paremba Sandstone, South Arm of Sulawesi: Implication on tectonic evolution and hydrocarbon potential

Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, S.T., M.Phil.IPM yang merupakan Guru Besar Teknik Geologi dan Kepala Pusat Studi Kebencanaan di Universitas Hasanuddin hadir sebagai narasumber di Geoseminar 2020 Beliau menyampaikan materi berjudul “Petrology, geochemistry and geochronology of Mesozoic Paremba Sandstone, South Arm of Sulawesi: Implication on tectonic evolution and hydrocarbon potential” yang merupakan hasil studi dari Geology of Sulawesi Research Group, Universitas Hasanuddin.

 

*.*.jpg

Pulau Sulawesi yang dikenal berbentuk “K” menjadi ketertarikan tersendiri khususnya pada aspek geologi pulau tersebut. Bentuk pulau menyerupai huruf “K” mencerminkan kondisi geologi Pulau Sulawesi yang sangat kompleks. Pulau Sulawesi juga dikenal sebagai “Triple Junction” yaitu pertemuan interaksi tiga lempeng utama (Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik). Dimana setiap lengan dari Pulau Sulawesi pada dasarnya berasal dari bagian lempeng yang berbeda. Lengan Selatan dimana penelitian dilakukan merupakan lengan yang lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas Lempeng Eurasia.

Paremba Sandstone tersingkap di tiga penampang sungai (Batumallapie, Ceppaga, dan Bontorio) yang telah mengalami deformasi tektonik secara intensif. Paremba Sandstone tersusun atas perlapisan tipis batupasir halus – sedang, batulanau, dan serpih, dengan sisipan lapisan batugamping tipis, konglomerat, dan basaltic dike. Pada lapisan batuan tersebut dijumpai nannofossil berupa Watznaueria barnesae dan Cyclagelosphaera margerelii, yang mengindikasikan umur W. barnesae dari Early Cretaceous - Late Cretaceous (M. Bajocian-Barremian) dan Cy. Magerelii dari Middle Jurassic - Early Tertiary (Perch-Nielsen, 1988).

 

Berdasarkan analisis geokimia yang dilakukan, Paremba Sandstone diindikasikan berasal dari batuan asal intermediet, kemungkinan batuan beku dengan komposisi andesitic. Paremba Sandstone terbagi atas dua unit, yaitu Unit A dan Unit B. Keduanya menunjukkan umur yang berbeda walaupun secara litologi memiliki kesamaan, tetapi diyakini bahwa kedua unit terbentuk dengan proses yang berbeda. Paremba Sandstone merupakan bagian dari microcontinent yang terpisah dari Gondwanaland.

 

Diakhir sesi pemaparannya, Prof. Dr.Eng. Ir. Adi Maulana, S.T., M.Phil.IPM menyampaikan bahwa berdasarkan analogi perkembangan sistem petroleum di Cekungan Bonaparte (NW Shelf Australia), Paremba Sandstone diyakini telah berperan baik sebagai batuan induk dan batuan reservoir.

 

Occurances and styles of hydrothermal gold and base metal Deposits in Sulawesi Island : Emphasizing on unconventional deposit setting for the future exploration target

Dr.rer.nat Ir. Arifudin Idrus,ST.,MT.,IPU. memulai pemaparan materinya dengan menceritakan daya tarik Sulawesi baik dari sisi budaya, wisata, sosiologi maupun sisi geologi yang sangat menarik. Pulau Sulawesi merupakan pusat dari kerangka tektonik di asia tenggara, dalam konteks sumberdaya mineral terutama emas juga sangat menarik. Data yang dimiliki pada tahun 2015, pulau sulawesi merupakan peringkat ketiga cadangan sumberdaya emas terbesar di Indonesia dimana North Sulawesi Arc memiliki 463 ton Au, 939 ton Ag dan 2304 ton Cu dan West Sulawesi Arc memiliki 127 ton Au. Cadangan emas di Indonesia banyak diambil jenis dari host/batuan induknya adalah batuan volkanik , sangat jarang sekali ditemukan yang berasal dari batuan sedimen maupun metamorf.

Bapak Arifudin Idrus menjelaskan bahwa menurut Van Leewen tahun 2011, berdasarkan tatanan geologi dan metalogeni di Sulawesi dibagi kepada 3 yaitu Northern Sulawesi, Western Sulawesi, dan Eastern Sulawesi. Northern Sulawesi diisi oleh batuan-batuan yang terkait dengan volkanik, Western Sulawesi berupa batuan volkanik dan sedimen serta metamort, dan Eastern Sulawesi diisi oleh metamorf dan ofiolit. Perbedaan dari tatanan geologi dan metalogeni di Sulawesi ini memiliki implikasi kepada tipe endapan mineralnya.

Sebaran hidrothermal di Northern Sulawesi secara umum dominan berupa endapan ephitermal, porphyri dan beberapa skarn. Endapan hidrothermal di Northern Sulawesi daerah Buladigunmerupakan endapan Porphyry, darah Lanun juga didominasi endapan porphyry intermediate dan high sulfide, daerah Totopo merupakan endapan ephitermal dimana ditemukannya Veinlet Stockwok yang berkaitan dengan sistem ephitermal. Endapan mineral yang yang cukup menarik adalah di daerah Ratatotok yaitu endapan Carlin type, endapan ini jarang ditemukan di Indonesia. Carlin type ini merupakan larutan ephitermal yang menembus batu gamping namun tidak sampai membentuk skarn. Endapan emas pada Carlin type di Ratatotok lebih banyak dikandung di arsenian pirit sehingga perlu dilakukan ekstraksi.

 

*.*.jpg

Didaerah Western Sulawesi, ada endapan mineral didaerah Poboya dengan jenis Low sulfida ephitermal dengan batuan induk/host berupa batuan methamorf dari formasi Toboli, mineralisasi di daerah Poboya juga dikontrol oleh sesar Palu Koro. Selanjutnya di daerah Awak Mas diidentifikasi merupakan endapan mineral jenis mesothermal atau orogenic gold dan memiliki batuan induk/host berupa batuan metamorf dari formasi Latimojong. Secara alterasi hidrothermal, di daerah Awak Mas sangat menarik karena adanya kehadiran albite yang berasal dari muscovite dari batuan host. Endapan meshothermal atau orogenic gold juga ditemukan karakteristiknya pada daerah Rampi. Di daerah Bastem, mineraliasi ditemukan pada mudstone, siltstone dan sandstone yang berumur eosen-miosen dari formasi Toraja. Formasi Toraja menjadi batuan induk/host endapan Low sulfida Ephitermal di daerah Bastem.

Eastern Sulawesi daerah endapan mineralnya berada di daerah Rumbia yang memiliki jenis endapan orogenic gold. Endapan Orogenic gold di daerah Rumbia ini ditemukan ada 3 generasi urat emas yaitu generasi pertama memiliki arah sejajar dengan foliasi dengan ketebalan hingga 1-2 meter, generasi kedua memotong arah foliasi pada umumnya memiliki kadar emas yang tinggi dan generasi ketiga adalah laminated quart+calcite veins yang merupakan karakteristik yang khas pada endapan orogenic gold.

Diakhir pemaparannya, Bapak Arifudin Idrus menyampaikan bahwa kedepannya target eksplorasi emas masa depan di Indonesia perlu melihat keberadaan endapan mineral di batuan sedimen maupun metamorf, serta juga perlu melirik kepada daerah-darah yang memiliki tektonik setting berupa back arc basin rift. Selain di Sulawesi terdapat target-target eksplorasi lainnya di daerah timur Indonesia juga memiliki potensi ditemukan pada komplek metamorf Pomangeo, formasi Toraja, formasi Latimojong, komplek metamorf Tiboli, komplek metamorf Wahlua dan Rana, komplek metamorf Darewo dan komplek metamorf Mutis.

 

Aji Suteja, B.Sc & Nurul Isnania Putri S.T

 


Unduh Bahan Presentasi [25,1 MB]

Unduh Bahan Presentasi [11,8 MB]

Download Sertifikat Peserta Webinar : bit.ly/geoseminarPSG5