Gunung Api (Past, Recent, and Future)

*.*.jpg

 

Dalam kurun waktu 800 tahun, Indonesia menghasilkan tiga kaldera yaitu Kaldera Gunung Api Rinjani pada tahun 1257, Gunung Api Tambora tahun 1815 dan Gunung Api Krakatau tahun 1883. Pemateri pertama yaitu Dr.Ir. Heryadi Rachmat,M.M menyampaikan mengenai Gunung Api Rinjani secara rinci dari sisi sejarah pembentukan kaldera, aktivitas Gunung Api Rinjani saat ini dan pengembangan Gunung Api Rinjani sebagai destinasi wisata dan sarana edukasi. Pemateri kedua yaitu Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman akan menjelaskan “Dinasti” Gunung Api Krakatau dalam Era Kegelapan, Hindia Belanda, hingga Indonesia. Kegiatan Geoseminar dengan tema Gunung Api dilaksanakan pada tanggal 3 Juni 2020, dimoderatori oleh Kepala Bidang Pemetaan Pusat Survei Geologi, Ir. S.R. Sinung Baskoro,M.T.

Gunung Api Rinjani : Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan

Penelitian Gunung Api Rinjani sudah mulai dilakukan pada tahun 1887 oleh peneliti-peneliti Belanda pada saat itu. Kemudian dilanjutkan oleh Kama Kusumadinata pada tahun 1969 untuk melihat aliran lava Gunung Api Rinjani yang terbentuk pada letusan tahun 1944 dan 1966. Dr.Ir. Heryadi Rachmat,M.M juga menyampaikan hasil penelitian yang dilakukannya mulai tahun 1992 hingga 2016 di Gunung Api Rinjani. Salah satu hasil penelitiannya adalah untuk melihat perubahan bentuk kaldera Gunung Api Rinjani, dimana letusan yang terjadi pada tahun 1966 dan 1994 bersumber dari tengah kawah, sedangkan pada tahun 2004 letusan terjadi dari samping atau flank eruption disebabkan adanya penyumbatan sehingga mencari zona-zona lemah.

Dr.Ir. Heryadi Rachmat,M.M menjelaskan mengenai sejarah Kaldera Gunung Api Rinjani pada pemaparan materinya. Sejarah Kaldera Gunung Api Rinjani bisa dibagi 5 tahap pembentukan. Tahap I pada umur Pleistosen terbentuk Gunung Api Rinjani tua yang dikenal dengan Gunung Api Samalas yaitu diperkirakan 12000 tahun yang lalu dan memiliki ketinggian puncak hingga 4000 mdpl. Pada tahap II, Gunung Api Rinjani muda terbentuk pada sayap timur Gunung Api Samalas. Pada tahap III kemudian terjadi letusan besar pada Gunung Api Samalas sehingga terbentuk kaldera Gunung Api Rinjani pada tahun 1257 dengan diameter 7 km dan kedalaman sekitar 600 meter. Pada tahap IV selanjutnya terjadi letusan Gunung Api Rinjani muda yang ditandai dengan piroklastik yang memenuhi tepi kaldera Gunung Api Rinjani. Tahap IV, Kaldera Gunung Api Rinjani dipenuhi oleh air menjadi Danau Segara Anak, aktivitas volkanik terus berlanjut hingga membentuk Gunung Api Barujari, pada letusan tahun 1944 terbentuk Gunung Api Rombongan dan pada tahun 1994 terbentuk Gunung Api Anak Barujari. Selanjutnya Heriyadi menerangkan bahwa berdasarkan data yang diperoleh, tidak ada korelasi kesamaan kejadian letusan Gunung Api Rinjani dan gempa bumi.

Saat ini Gunung Api Rinjani merupakan bagian dari Unesco Global Geopark (UGG), dimana telah dikembangkan menjadi daerah geowisata dan sudah diagendakan untuk mengadakan kegiatan pembinaan School to Geopark sebagai bagian dari edukasi mengenai gunung api rinjani. Di akhir pemaparan materinya, Dr.Ir. Heryadi Rachmat,M.M berharap Gunung api Rinjani dapat meningkatkan sarana dan fasilitasnya untuk menjadi destinasi wisata internasional, sebagai sarana edukasi salah satunya dengan membuat site museum pada lokasi penemuan artefak yang tertimbun saat pembentukan Kaldera Gunung Api Rinjani

 

Dinasti “Krakatau” dari Hindia Belanda ke Indonesia

Presentasi berjudul “Dinasti” Gunung Api Krakatau dalam Era Kegelapan, Hindia Belanda, hingga Indonesia, yang disampaikan oleh Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman merupakan topik yang sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia, baik dari kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Dimana Gunung Krakatau yang dijuluki juga sebagai “Raja nya Selat Sunda” sudah berdiri gagah sejak zaman dahulu dan merupakan salah satu gunung api aktif yang pernah meletus dengan hebatnya di tahun 1883.

Pada Era Kegelapan (60.000 tahun yang lalu), menurut Wohletz (2000), Pulau Sumatra dan Jawa bersatu dengan Gunung Proto Krakatau terletak di tengah-tengah nya. Gunung ini meletus dan membentuk kaldera yang sangat besar, yang sekarang dikenal dengan Selat Sunda. Sedangkan menurut Symons (1888), letusan Gunung Krakatau Purba (535) membentuk kaldera yang besar dan selanjutnya berkembang Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Parbuwatan.

Dalam pemaparan materinya, Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman menyampaikan bahwa letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 dimulai pada tanggal 25 Agustus yang berlangsung hingga keesokan harinya dan memicu terjadinya gelombang laut besar. Letusan Gunung Krakatau tahun 1883 ini memicu kenaikan gelombang pasang yang tercatat hampir di seluruh dunia. Setelah letusan tahun 1883, Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Parbuwatan hilang dan hanya menyisakan bagian kecil yang saat ini masih dapat diamati sebagai pulau kecil.

Selanjutnya pertumbuhan Gunung Anak Krakatau (1930-1963) menurut Zen (1969) terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu tahap I – III. Kemudian setelah letusan tahun 2018, pertumbuhan Gunung Anak Krakatau diamati kembali hingga tahun 2019 dimana terjadi perubahan luas area yang meningkat (konstruktif) secara signifikan.

Setelah peristiwa tsunami bulan Desember tahun 2018, Gunung Anak Krakatau hilang tetapi kembali tumbuh dengan sangat cepat. Data tomografi dan tes DNA sumber magma menunjukkan adanya pertumbuhan magma dari dua sumber sehingga mendorong pertumbuhan Gunung Anak Krakatau yang sangat cepat hingga saat ini.

Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman juga menyampaikan bahwa hingga saat ini Gunung “Krakatau” masih menjadi subjek menarik khususnya bagi para vulkanologis untuk terus melakukan penelitian terkait pertumbuhan dan perkembangan gunung api tersebut.

 

Aji Suteja, B.Sc dan Nurul Isnania Putri, ST


Unduh Bahan Presentasi [6.2 MB]

Unduh Bahan Presentasi [5 MB]


Download Sertifikat Geoseminar : bit.ly/geoseminarPSG4