SEISMOTEKTONIK DAN GEMPA BUMI TSUNAMIGENIK PALU-DONGGALA-SIGI, 28 SEPTEMBER 2018, SULAWESI TENGAH

Oleh:

Asdani Soehaimi ( This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it )

Wilayah Sulawesi Tengah adalah merupakan bagian dari dari daerah yang memiliki Sistim Seismotektonik Simetri yakni daerah yang berada di zona tumbukan antara dua Lempeng Tektonik Benua Asia/Sunda Land dan bagian dari Benua Australia (Peta Patahan Aktif Indonesia, Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, 2005). Palu-Donggala-Sigi adalah Daerah Rawan Gempa Bumi Indonesia No.XV/Sulawesi Tengah (Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, 2004). Khusus daerah sepanjang lajur Patahan Palu – Koro – Matano, berdasarkan Peta Zonasi Gempa bumi Indonesia/SNI;1726:2012 (Kementrian PU,2010) memiliki percepatan puncak (PGA) adalah 1-1,2 g (pada situs batuan SB, 2% kebolehjadian dalam 50 tahun). Tahun 2017, Kementrian PUPR, menerbitkan peta Sumber dan Bahaya Gempa bumi, daerah ini memiliki percepatan puncak adalah 1,5-2g. Tercatat lebih dari 10 kali gempa bumi merusak telah melanda daerah ini yakni Gempa bumi Bora – Tondo 1938, Gempa bumi Tambu, 1968, Gempa bumi Donggala, 1998, Gempa bumi Gimpu, 1985, Gempa bumi Palu 2005 dan 2009, Gempa bumi Kulawi, 2012 dan Gempa bumi Palu –Donggala-Sigi, 2018. Data dan informasi tersebut diatas, menunjukan secara regional daerah Palu-Donggala-Sigi adalah daerah Rawan Gempabumi yang harus di waspadai saat.

Geologi daerah Palu-Donggala-Sigi disusun oleh batuan tua (Mesozoik/Trias-Jura) berupa batuan serpih,filit dan sabak, batuan terobosan granit (Kenozoik/Oligosen), campuran batuan konglomerat, batupasir, batulumpur, napal dan batugamping koral dijumpai menempati lereng gawir patahan Palu – Koro bagian barat dan timur, R. Sukamto drr, 1974 menyebutnya sebagai Molasa Sulawesi. Selain batuan batuan tersebut diatas di Lembah Palu, terutama di sekitar Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala dijumpai batuan yang sangat muda berupa Endapan Kipas Aluvium Patahan Palu-Koro (A.Soehaimi drr, 2013) yang terdiri dari Endapan Kipas Aluvium Patahan Palu-Koro 1 sampai 4, yang umumnya terdiri dari campuran lempung, pasir kasar-halus, klakal – krikil batuan beku granit, sediment dan metamorfik, yang secara keseluruhan masih bersifat lepas dan banyak mengandung air. Batuan termuda dijumpai berupa Endapan Teras Sungai Palu, Aluvium Sungai Palu dan Endapan Teras Pantai dan Endapan Pasir Pantai. Endapan Kipas Aluvium Patahan Palu-Koro, Endapan Teras Sungai Palu, Aluvium Sungai Palu dan Endapan Pasir pantai tersebut diatas memiliki indek kerentanan sangat tinggi guncangan tanah akibat gempa bumi. Struktur geologi utama di daerah ini dijumpai berupa patahan mendatar mengiri turun, dengan ciri bercabang (bifurcations). Di Palu dan sekitarnya, dijumpai Patahan Palu-Koro sisi barat dan timur. Keberadaan patahan ini dibawah permukaan dapat dilihat dari pemodelan gaya berat sisa oleh S.Hayat drr, 1999. Neotektonik Patahan Aktif di daerah ini tercatat aktifitasnya pada 26750 ± 700 BP dan 1790 ± 200 BP.

Gempa bumi Palu-Donggala-Sigi 28 September 2018 yang berpusat di sebelah timur Teluk Palu yakni di sekitar Teluk Tambu adalah Gempa bumi Tsunamigenik yang bersifat merusak, yang terjadi akibat aktifitas patahan mendatar mengiri turun dengan arah jurus dan kemiringan patahan N359°E/67°. Pada peristiwa patahan ini blok patahan bagian atas (hanging wall) yang terletak di sebelah timur lajur patahan bergerak turun (rake 24°) ke arah utara, sedangkan blok patahan bagian bawah (foot wall) yang terletak di sebelah barat lajur patahan selain turun juga bergerak sedikit naik kea rah selatan. Mekanisme gerak patahan inilah yang menyebabkan terjadinya gelombang tsunami di teluk Palu. Selain mekanisme tersebut diatas, terjadinya tsunami di daerah ini dapat juga dipicu oleh propagasi gelombang gempa bumi, baik gelombang utama gelombang P dan S, juga gelombang permukaan Raylieg dan Love.

Potensi bencana gempa bumi guncangan tanah di Kota Palu dan sekitarnya, dapat diketahui dari peta mikrozonasi yang berbasiskan pada nilai perioda dominan batuan dan tanah setempat (T), yang dapat menghitung ketebalan sedimen lunak., kecepatan rambat gelombang S (Vs30), yang dapat mengetahui klas situs batuan dan tanah serta faktor batuan/tanah setempat (Kementrian PU, 2004), perbandingan gelombang h/v, yang dapat mencerminkan keras lunaknya batuan dan tanah setempat. Berdasarkan parameter tsb diatas, Kota Palu dan sekitarnya dapat dibagi atas 4 zona yakni Zona Kerentanan Sangat Tinggi Guncangan Tanah, Zona Kerentanan Tinggi Guncangan Tanah, Zona Kerentanan Sedang Guncangan Tanah serta Zona kerentanan Rendah Guncangan Tanah.

Risiko kerusakan akibat guncangan gempa bumi 28 September 2018, umumnya terkonsentarsi di Zona Kerentanan Sangat Tinggi Guncangan Tanah, seperti Hotel Roa-Roa, Pusat Perbelanjaan Ramayana, Perumahan Petobo dan Balaroa. Ketebalan sedimen lunak di Perumahan Balaroa berdasarkan analisis mikrotremor adalah 22,5 meter, di Perumahan Petobo adalah 33,75 meter. Berdasarkan penampang Geologi Kuarter (H. Mochtar drr, 1999). Perumahan Balaroa terletak diatas Endapan Kipas Aluvium Tengah dan Endapan Kipas Aluvium Bawah yang berasal dari Kipas Gawir Patahan Palu-Koro Sisi Barat. Perumahan Petobo terletak diatas Endapan Limpah Banjir,Endapan Alur Sungai dan Endapan Material Rombakan/Kipas yang berasal Sungai Palu dan Kipas Gawir Palu-Koro sisi Timur. Berdasarkan klas situs batuannya, batuan ini merupakan situs SE(Vs≤180 m/dt) dengan nilai amplifikasi adalah 2,2. Seperti telah di sebut diatas daerah sepanjang Patahan Palu-Koro-Matano ini memiliki percepatan 1-1,2g (Kementrian PU, 2010) yang diperbaharui menjadi 1,5- 2 g (Kementrian PUPR, 2017). Nilai percepatan dipermukaan di kedua lokasi tersebut diatas Sangat – Sangat Tinggi.

Untuk memitigasi risiko gempa bumi dan tsumami di masa yang akan datang di daerah ini, penyusunan tataruang Provinsi, Kabupaten dan Kota, harus mengacu pada peta mikrozonasi Level 1,2 hingga 3. Untuk Tingkat Provinsi sebaiknya dibuat peta mikrozonasi Level 1. Kabupaten Level 1 - 2,Kota level 2 – 3. Pembangunan infrastruktur gedung dan non gedung, dianjurkan mengacu pada Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung (SNI 1726:2012). Sebaiknya di sepanjang pantai Teluk Palu di buat Zona Sepadan Tsunami, denga mengacu pada nilai magnitude tsunami terburuk di kawasan ini. Dianjurkan di sepanjang pantai yang padat penghuninya di buat tembok penahan tsunami.Pembuatan lajur Evakuasi Tsunami harus dilakukan di Kota Palu dan sekitarnya. Pengetahuan tata cara membangun rumah tahan gempa harus dilakukan terhadap mereka yang berada di sektor pembangunan gedung dan non gedung. Sosialisasi tentang bahaya gempa bumi dan mitigasinya harus sering dilakukan.

 

Kata Kunci : Seismotektonik dan Gempabumi Tsunami Genik.

Unduh Bahan Presentasi [6 MB]