Analisis Gempa Palu dan Donggala, Geoseminar Kupas Tuntas Jejak Patahan Palu-Koro

20180903_134103.jpg

 

BANDUNG - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali merilis Geoseminar bertema "Jejak Patahan Palu-Koro (Gempa Palu dan Donggala)," pagi ini Jumat (5/10), di Bandung.

Mengupas kondisi seismotektonik dan gempa bumi tsunamigenik Palu-Donggala-Sigi, peneliti senior Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi Asdani Soehaimi, mengungkapkan gempa bumi Palu-Donggala-Sigi 28 September 2018 yang berpusat di sebelah timur Teluk Palu yakni di sekitar Teluk Tambu adalah Gempa bumi Tsunamigenik yang bersifat merusak, yang terjadi akibat aktifitas patahan mendatar mengiri turun.

Pada peristiwa patahan ini blok patahan bagian atas (hanging wall) yang terletak di sebelah timur lajur patahan bergerak turun (rake 24 derajat) ke arah utara, sedangkan blok patahan bagian bawah (foot wall) yang terletak di sebelah barat lajur patahan selain turun juga bergerak sedikit naik ke arah selatan. "Mekanisme gerak patahan inilah yang menyebabkan terjadinya gelombang tsunami di teluk Palu," tegas Asdani.

Menurut Asdani, daerah sepanjang lajur Patahan Palu-Koro-Matano adalah merupakan daerah yang beresiko tinggi bahaya bencana gempa bumi. Wilayah Provinsi, Kabupaten dan Kota yang berada di daerah sekitar dan berimpit dengan lajur patahan Palu-Koro-Matano harus menyusun tata ruang yang berbasis pada potensi bencana gempa.

Diungkapkan pula bahwa pembuatan peta mikrozonasi potensi bencana gempa bumi untuk Ibu Kota Provinsi, Kabupaten dan Kota sebaiknya dilakukan untuk level 1-3. Jenis pemanfaatan dengan kategori resiko dalam SNI 1726:2012 dalam penempatan pemanfaatan ruang berbasis tingkat kerentanan dapat diterapkan.

Selengkapnya..