Mengenal Geodinamika Pulau Lombok Sebagai Upaya Mengungkap Bencana Gempabumi Yang Terjadi

Indonesia dikaruniai wilayah yang subur dan alam yang indah, namun disisi lain juga menyimpan potensi bencana yang besar. Hampir tidak ada wilayah yang bebas dari pengaruh tektonik (penunjaman dan patahan) aktif. Berbagai kejadian gempabumi di tanah air yang merenggut banyak korban jiwa maupun harta benda harus semakin meningkatkan kesadaran kita bahwa kita hidup di daerah daerah yang rawan bencana. Hal yang bisa kita lakukan hanya mengurangi dampak dari bencana dengan mempelajari kelakuan dari bencana itu sendiri. Untuk mengenal lebih jauh karakteristik bencana gempabumi kita harus mengetahui dan mempelajari apa yang disebut dengan geodinamika bumi, yang menjelaskan mobilitas konveksi mantel bumi yang memicu pergerakan dinamis dari lempeng tektonik bumi yang mempengaruhi berbagai macam fenomena geologi seperti pemekaran lantai samudera, pembentukan gunungapi, kejadian gempabumi dan pergerakan patahan.

Seperti kita ketahui bersama, suasana menyambut hari peringatan kemerdekaan dalam sepekan terakhir dikejutkan dengan kejadian bencana gempabumi berkekuatan 7 SR di wilayah P. Lombok dan sekitarnya. Hingga Sabtu malam, 11 Agustus 2018, press release Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 401 korban meninggal (Kompas.com, 2018) dan ribuan bangunan rusak di wilayah P. Lombok dan P. Bali. Korban terbanyak berada di Kabupaten Lombok Utara yang merupakan wilayah terdekat dengan pusat gempabumi.

Jika kita perhatikan geodinamika Pulau Lombok, dimana tataan tektonik wilayah ini dipengaruhi oleh dua lajur sumber gempabumi aktif, yakni Penunjaman Kerak Samudera Indo-Australia di bawah kepulauan Indonesia dan Patahan Naik Busur Belakang Flores.

Mengenal Geodinamika gbr1

 

selengkapnya..