REKOMENDASI WILAYAH KERJA MIGAS TAHUN 2018

Sejak tahun 2015 hingga tahun 2018, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Pusat Survei Geologi telah turut aktif berkontribusi dalam kegiatan eksplorasi minyak dan gas bumi. Antara lain dengan melaksanakan survei dan kajian-kajian Ilmu Geologi dan Geofisika yang komprehensif, yang hasilnya dituangkan dalam 36 Rekomendasi Wilayah Kerja Migas. Tujuannya untuk mendukung percepatan temuan giant field minyak dan gas bumi guna menambah cadangan terbukti migas nasional.

Pada tahun anggaran 2018, Pusat Survei Geologi melakukan program penyusunan Rekomendasi Wilayah Kerja Migas di sembilan (9) lokasi. Sembilan lokasi Rekomendasi Wilayah Kerja Migas tersebut terdiri atas 7 Wilayah Kerja (WK) Migas Konvensional dan 2 Wilayah Kerja (WK) Migas Non Konvensional.

Adapun Rekomendasi WK Migas yang dikeluarkan pada tahun anggaran 2018 meliputi wilayah-wilayah di Pulau Sumatra hingga Pulau Papua, yang terdiri atas:

  1. WK Jambi, Jambi (Migas Non Konvensional)
  2. WK Kutai Timur, Kalimantan Timur (Migas Non Konvensional)
  3. WK Banyumas, Jawa Tengah
  4. WK Kolbano, Nusa Tenggara Timur
  5. WK Ebuny, Sulawesi Tenggara
  6. WK Arguni Utara, Papua Barat
  7. WK Kaimana, Papua Barat
  8. WK Selaru, Papua
  9. WK Arafura Selatan, Papua

Diantara kesembilan WK Migas tersebut, terdapat lima (5) WK Migas yang teridentifikasi adanya petunjuk (lead) sumberdaya migas potensial, baik migas konvensional maupun migas non konvensional. Selain itu, dua WK tipe Migas Konvensional bahkan telah teridentifikasi memiliki sumberdaya yang bisa digolongkan dalam kategori giant field, yaitu WK Selaru dan WK Arafura Selatan. Sedangkan WK Migas lainnya adalah WK Jambi, WK Kutai Timur, dan WK Kaimana.

WK Jambi yang termasuk WK Migas Non Konvensional telah teridentifikasi menyimpan potensi shale gas pada batuan serpih Formasi Talang Akar. Terdapat sedikitnya 2 area sweet spot untuk potensi shale gas di wilayah ini.

WK Kutai Timur merupakan hasil penelitian tahap lanjut dari WK Kutai pada tahun 2017. Dimana WK Kutai Timur lebih memfokuskan penelitian di Subcekungan Kutai Timur (Lower Kutai) pada Formasi Pamaluan. WK Migas Non Konvensional Kutai Timur teridentifikasi menyimpan potensi shale gas dan shale oil, dengan kandungan original gas in place (OGIP) sebesar 37,94 Trillion Cubic Feet (TCF). Sedangkan kandungan original oil in place (OOIP) sebesar 1472,46 Million Barels of Oil (MMBO).

Berdasarkan hasil integrasi data di WK Kaimana, terdapat 5 daerah lead pada sistem petroleum berumur Mesozoikum berupa reservoir batupasir.

Pada WK Selaru telah teridentifikasi adanya 2 daerah lead pada reservoir batupasir Formasi Woniwogi berumur Mesozoikum, dengan total sumberdaya potensial P(50) untuk skenario minyak sebesar 4.060 MMBO dan untuk skenario gas sebesar 4,8 TCF.

Sedangkan pada WK Arafura Selatan telah teridentifikasi 2 daerah lead pada reservoir Formasi Woniwogi berumur Aptian (Kapur Awal) dan reservoir Formasi Aiduna berumur Permian. Total sumberdaya potensial P(50) dari kedua lead tersebut untuk skenario minyak adalah sebesar 6.144,54 MMBO dan untuk skenario gas sebesar 7,36 TCF.

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_1.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_2.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_3.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_4.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_5.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_6.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_7.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_8.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_9.png

 

2019-05-29-RWK_Migas_TA_18_10.png