Pemetaan Geomorfologi Lembar Sorong Skala 1:100.000

Kebijakan pemerintah untuk membangun Indonesia dengan memperkuat daerah-daerah dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia memerlukan komitmen dan dukungan konkret dari semua elemen pemerintahan. Penguatan kapasitas daerah dalam sektor ekonomi maupun dalam membangun ketahanan terhadap resiko bencana memerlukan dukungan informasi kapasitas dan resiko suatu wilayah. Berkaitan dengan hal tersebut, Peta Geomorfologi yang menggambarkan informasi tentang bentang alam suatu daerah secara genetis akibat proses–proses yang terjadi di masa lalu maupun sekarang dapat memberikan informasi mengenai potensi sekaligus kerentaan lahan dalam suatu wilayah. Untuk itu maka informasi yang diberikan dalam Peta Geomorfologi sangat bermanfaat dalam perencanaan dan pembangunan suatu wilayah.

Sebagai bagian dari upaya peningkatan pemanfaatan informasi geomorfologi ini, maka pada tahun 2016 Pusat Survei Geologi telah melaksanakan kegiatan survei dan pemetaan geomorfologi di wilayah Kota Sorong dengan skala 1:100.000. Kegiatan ini meliputi tahapan awal berupa interpretasi objek–objek morfologi melalui bantuan citra berupa batas–batas morfologi, gambaran dan batasan pola aliran, kerapatan dari kontur hingga aspek–aspek geologinya. Pada tahapan selanjutnya dilaksanakan survei pemetaan morfologi wilayah Kota Sorong yang terbagi kedalam 2 (dua) periode. Periode pertama dilaksanakan pada bulan Maret hingga April dan periode kedua dilaksanakan pada bulan Agustus hingga September tahun 2016. Dalam kegiatan ini dilakukan pengamatan, pengukuran, analisis bentang alam, serta pengambilan contoh batuan. Untuk menunjang analisis karakteristik fisik dan genetis batuan, maka dari batuan contoh yang diambil dari kegiatan lapangan dianalisis di laboratorium dengan menggunakan beberapa metode antara lain: analisis petrografi, penentuan umur batuan dengan carbon dating dan fission track analysis. Pada tahap akhir dilakukan interpretasi dan pemodelan oleh para ahli geomorfologi untuk menunjang informasi mengenai faktor geologi yang berpengaruh terhadap pembentukan bentang alam baik itu kemiringan lereng, kerapatan sungai, erosi, pelapukan dan yang lainnya. Faktor-faktor ini diharapkan akan meberikan kontribusi sebagai informasi dalam proses perencanaan pemanfaatan lahan seperti pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, maupun obyek-obyek vital lain. Disamping itu faktor-faktor tersebut juga bermanfaat dalam pemanfaatan lahan untuk lahan pertanian, perkebunan, maupun industri.

Pembangunan ruas jalan jalan Klasuat Malawer–Malasaum merupakan salah satu contoh kasus yang menarik terkait pemanfaatan informasi Peta Geomorfologi, dimana ruas jalan ini terdapat dalam wilayah yang secara geomorfologi dikelompokkan dalam satuan Pebukitan Bergelombang Terlipat Lemah (S2). Satuan ini tersusun oleh lempung hitam, lanauan dan serpih berlapis dari Formasi Klasaman yang mengalami perlipatan. Kondisi bentuk lahan yang bergelombang dan tererosi menyebabkan daerah ini menjadi labil sehingga memerlukan perhatian secara teknis konstruksi dalam pembuatan infrastruktur jalan.


Pembukaan Jalan lintas Kota di Daerah Makbon, Sorong


Kota Sorong merupakan wilayah yang sangat potensial sebagai penggerak pembangunan di wilayah sekitarnya. Wilayah ini sangat strategis di bagian barat Pulau Papua dan merupakan salah satu penghubung untuk pengembangan tol laut di Indonesia. Untuk itu pembangunan infrastruktur penunjang pertumbuhan ekonomi diharapkan akan lebih efektif dan efisien jika memperhatikan informasi-informasi yang ada dalam peta geomorfologi.



Editor: R. Isnu H. Sulistyawan
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti