Interpretasi Citra Inderaan Jauh Untuk Pemetaan Geologi

Program Nawa Cita untuk membangun Indonesia dari pinggiran serta tumbuhnya sektor industri nasional di bidang energi dan sumber daya mineral membutuhkan informasi kebumian dalam skala yang lebih rinci sebagai basis pembangunan nasional. Salah satu metode/teknologi yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan informasi geologi rinci tersebut adalah Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing). Citra sebagai produk penginderaan jauh dapat dijadikan dasar dalam melakukan interpretasi geologi dengan cakupan daerah yang luas serta pada daerah-daerah terpencil (remote area) sehingga mempercepat perolehan informasi kebumian. Interpretasi ini diharapkan mampu menghasilkan peta geologi inderaan jauh sebagai dasar pembuatan peta geologi skala 1:50.000.

Interpretasi citra inderaan jauh adalah salah satu tahapan awal dalam melakukan pemetaan geologi di suatu wilayah. Jenis citra yang digunakan tergantung dari skala peta yang dihasilkan. Citra dengan resolusi di bawah 10m (ikonos, geoeye, ifsar) dapat digunakan pada peta skala besar (di bawah 1:50.000). Peta skala 1:25.000 - 1:50.000 menggunakan citra ASTER (resolusi 15m, 30m), citra ALOS (10m, 15m), SPOT (10m, 15m) atau bisa juga citra Landsat (15m, 30m, 90m untuk thermal). Citra yang ada dapat dikombinasikan untuk mempertajam resolusi sehingga memudahkan interpretasi. Beberapa contoh citra yang dapat digunakan untuk interpretasi antara lain (1) citra optis, (2) citra DSM (Digital Surface Model) radar dan (3) citra fusi gabungan antara citra optis dan DSM.



Interpretasi geologi dilakukan dengan mengidentifikasi obyek geologi berdasarkan ciri kenampakan citra, meliputi bentuk, ukuran, warna/rona, bayangan, tekstur, pola, dan hubungan antar obyek, morfologi dan pola aliran. Pemahaman mengenai kondisi geologi regional sangat penting untuk mengetahui arah umum struktur utama, orientasi lipatan, sesar-sesar utama serta pola jurus perlapisan. Hal lain yang perlu dipelajari dari kondisi geologi regional adalah komposisi batuan-batuan yang ada di daerah pemetaan, jenis batuan (sedimen, beku, metamorf, aluvial, vulkanik), serta stratigrafi batuan dari tua ke muda.

Hasil interpretasi geologi meliputi satuan batuan dan struktur geologi. Penarikan batas batuan, penentuan nama/jenis satuan dan pola kelurusan didukung oleh data hasil penelitian/pemetaan terdahulu sebagai referensi. Tahap selanjutnya adalah pengecekan lapangan. Pengecekan ini bertujuan untuk melakukan validasi di lapangan dan menentukan kebenaran hasil interpretasi geologi di beberapa daerah kunci atau daerah–daerah tertentu yang dianggap mewakili kondisi geologi.

 

Editor: Akbar Cita
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti