Pertimbangan Geologi Untuk Pembangunan Rel Kereta Api Cepat Bandung - Jakarta

Pemerintah telah mencanangkan pembangunan rel kereta api cepat Bandung – Jakarta sepanjang 142,3 Km. Groundbreaking rel kereta api telah dilakukan oleh Presiden RI pada tanggal 12 Januari 2016 di daerah perkebunan Walini. Lajur rel kereta api cepat akan melewati wilayah Kota Jakarta Timur, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten dan Kota Karawang, Kabupaten dan Kota Purwakarta, Kota Cimahi serta Kabupaten Bandung Barat dan Kota Bandung. Lajur rel kereta api cepat dapat dibagi menjadi tiga segmen yakni segmen Jakarta – Karawang, Karawang – Purwakarta dan Cimahi/Padalarang – Bandung. Beberapa kondisi geologi mendasar yang perlu dipertimbangkan antara lain:


A. Segmen Jakarta – Karawang

  1. Ketebalan, sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah lunak yang terletak diatas batuan dasar;
  2. Keberadaan lajur lemah geologi yang berasosiasi dengan struktur geologi dan perubahan sifat fisik dan keteknikan batuan dan tanah secara tegak dan mendatar;
  3. Kejenuhan akan air yang dapat mempengaruhi sifat fisik batuan dan tanah setempat;
  4. Faktor kegempaan pada segmen ini yang dikontrol oleh lajur seismotektonik tunjaman aktif 2 dan 3 di bawah permukaan pada kedalaman 50 – 200 Km dan > 200 Km, serta dilalui oleh lajur patahan potensial aktif Baribis;
  5. Respon dinamika batuan dan tanah di permukaan terhadap getaran gempa bumi perlu mendapat perhatian.

B. Segmen Karawang – Purwakarta

  1. Potensi bencana geologi gerakan tanah di segmen ini dikontrol oleh adanya perbedaan sifat fisik batuan dan tanah penyusun, kesetabilan lereng batuan dan tanah penyusun, keairan termasuk didalamnya curah hujan serta getaran gempa bumi dan getaran lainnya (lalu lintas);
  2. Khusus untuk daerah yang tersusun batulempung yang mempunyai sifat fisik mengembang dalam keadaan basah dan mengkerut dan pecah-pecah dalam keadaan kering pada segmen ini, dapat menjadi daerah rawan gerakan tanah rayapan. Sifat fisik yang porus pada batuan gunungapi dan kedap air pada batulempung dapat menjadi tempat akumulasi air permukaan yang dapat memicu terjadinya gerakan tanah, terutama pada daerah daerah yang berlereng;
  3. Bentang alam struktur geologi yang terjal dan munculnya batuan tua diantara batuan muda merupakan ciri khas keberadaan lajur patahan, misalnya di sepajang alur Sungai Cisomang dan Bendungan Jatiluhur. Bentang alam dan struktur geologi sebagai lajur lemah geologi seperti ini harus menjadi pertimbangan dalam pembangunan lajur rel kereta api;
  4. Faktor kegempaan pada segmen ini terutama dikontrol lajur seismotektonik tunjaman aktif 2 dan 3 serta lajur patahan potensial aktif Baribis dan Pasir Cantayan - Cisonang;
  5. Respon dinamika batuan dan tanah dipermukaan terhadap getaran gempa bumi perlu mendapat perhatian khusus.

C. Segmen Cimahi/Padalarang – Bandung

  1. Potensi bencana geologi gerakan tanah di segmen ini dikontrol oleh adanya perbedaan sifat fisik batuan dan tanah penyusun, kesetabilan lereng batuan dan tanah penyusun, keairan termasuk didalamnya curah hujan serta getaran gempa bumi dan getaran lainnya (lalu lintas);
  2. Bentang alam struktur geologi yang terjal dan munculnya batuan tua diantara batuan muda pada segmen ini adalah merupakan ciri khas keberadaan lajur patahan. Seperti dapat ditemui di sekitar Tagokapu Padalarang, sebagai daerah pertemuan antara struktur geologi patahan naik Rajamandala dan patahan Lembang. Bentang alam dan struktur geologi sebagai lajur lemah geologi seperti ini harus menjadi pertimbangan dalam pembangunan lajur rel kereta api;
  3. Faktor kegempaan pada segmen ini terutama dikontrol lajur seismotektonik tunjaman aktif 2 dan 3 serta lajur patahan aktif Lembang, Tanjungsari dan Cicalengka;
  4. Respon dinamika batuan dan tanah terhadap getaran gempa bumi dan getaran lainnya, terutama di dataran Bandung yang tersusun oleh endapan Kuarter perlu mendapat perhatian.


Editor: Akbar Cita
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti