Stratigrafi dan Evaluasi Source Rock Cekungan Banyumas

Presenter : Dr. Ruly Setiawan

 

Cekungan Banyumas tercatat merupakan salah satu cekungan yang mempunyai banyak manifestasi keberadaan hidrokarbon berupa rembesan minyak dan gas di permukaan. Namun cekungan yang diperkirakan terletak di daerah Lembar Cilacap, Majenang, dan Purwokerto ini hingga saat ini belum terbukti menghasilkan hidrokarbon. Padahal telah banyak studi yang dilakukan untuk membuktikan sistem petroleum Cekungan Banyumas. Diperkirakan kompleksitas eksplorasi migas cekungan ini disebabkan adanya sistem vulkanik yang berperan mempengaruhi terjebaknya hidrokarbon yang telah matang.

 

*.*.jpg

 

Untuk mempelajari bagaimana sistem petroleum di Cekungan Banyumas, Pusat Survei Geologi pada tahun 2018 melakukan penelitian yang difokuskan untuk eksplorasi hidrokarbon Cekungan Banyumas. Studi yang dilakukan meliputi survei Geologi dan Geofisika. Adapaun fokus studi geologi yang dilakukan yaitu evaluasi statigrafi. Kemudian hasil penelitian stratigrafi, disampaikan pada Geoseminar Pusat Survei Geologi tanggal 19 Juli 2019. Pembicara yang menyampaikan penelitian ini yaitu Dr. Ruly Setiawan. Beliau adalah Peneliti dalam bidang stratigrafi di Pusat Survei Geologi.

Cekungan Banyumas, seperti disampaikan oleh Ruly, dalam pengetahuan kegeologian terutama sistem petroleum nya dapat dikatakan terra incognita, tak terlalu dikenal. Hal ini disebabkan masih belum bisa dipastikan secara ilmiah bagaimana kondisinya. Cekungan ini tercatat sudah dilakukan pemboran sumur eksplorasi, seperti sumur Jati 1, Karang Nangka, dan terlihat memang berpotensi menghasilkan migas. Hal ini juga terihat dari banyaknya oilseep yang banyak terdapat sekitar Sesar Cilacap.

Dari pengecekan lapangan dan data yang sudah ada sebelumnya, diketahui bahwa formasi yang berpotensi menjadi reservoir hidrokarbon di daerah ini yaitu Formasi Gabon (breksi vulkanik Oligosen – Miosen), Rambatan (batupasir Miosen Akhir – Pliosen Awal), dan Kalipucang (batugamping Pliosen). Adapun yang berpotensi sebagai batuan induk yaitu Formasi Pemali (Batulempung, Miosen Tengah), Rambatan, dan Kalipucang.

Selanjutnya dilakukan evaluasi terhadap seluruh formasi tersebut menggunakan analisa geokimia. Hasil geokimia dari sampel permukaan seluruh formasi tersebut menunjukkan mayoritas nilai TOC kurang dari 1% atau kualitas cukup (fair). Tmax yang ada juga menunjukkan mayoritas belum matang, kecuali Formasi Halang yang menunjukkan overmature (kemungkinan pengaruh panas dari vulkanisme). Adapun tipe kerogen dari batuan induk yaitu menunjukkan tipe III yang cenderung menghasilkan gas dan berasal dari material darat.

 

*.*.jpg

 

Kemudian Ruly juga menyampaikan analisa geokimia dari rembesan minyak dan gas yaitu daerah Cipari dan Besuki. Hasil analisa menunjukkan rembesan berasal dari material organik lingkungan darat dan berasal dari batuan yang lebih tua dari formasi yang sudah disebutkan sebelumnya (kemungkinan Eosen).

Dari hasil analisa geokimia stratigrafi maupun rembesan migas di Cekungan Banyumas dapat disimpulkan masih kurang kuat untuk dinyatakan formasi mana yang merupakan penghasil hidrokarbon. Sehingga kemungkinan masih perlu eksplorasi lebih lanjut dimana formasi yang ditargetkan, dan selanjutnya yaitu lokasi cebakan migas.

Adanya penelitian ini diharapkan mampu menambah data kegeologian dalam eksplorasi migas di Cekungan Banyumas, sehingga area yang sudah terbukti muncul oilseep ini bisa dikeluarkan cadangan yang terkandung didalamnya.

 

Unduh Bahan Presentasi [25,3 MB]