Tantangan Pengelolaan Air Tanah di Wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta

Air tanah di jakarta merupakan kebutuhan vital untuk hajat hidup kota berpenduduk sekitar 10 juta jiwa ini. Pada tahun 2015, setiap tahunnya diperlukan air bersih sebanyak 824.784.742 m3, dimana 60% dari kebutuhan itu dipenuhi dari air tanah. Sedangkan pengambilan air tanah secara terus menerus di Jakarta pun berdampak pada kondisi air tanah, hingga kepada penurunan muka tanah. Dari tantangan tersebut, dibutuhkan kajian yang baik dalam pengelolaan air tanah di jakarta.

Untuk membahas tentang tantangan pengelolaan air di Jakarta, pada hari Jumat, 24 Mei 2019 dilaksanakan Geoseminar Pusat Survei Geologi, yang mengundang pembicara dari Balai Konservasi Air Tanah, Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM. Beliau adalah Tantowi Eko Prayogi, S.T.

 

*.*.jpg

Gambar 1. Daerah rawan banjir Jakarta tahun 2015 dibandingkan dengan Peta Laju Penurunan Tanah tahun 2010.

Menurut Tantowi, dari pantauan 277 sumur pantek, sumur gali, sumur pantau, dan sumur produksi, 80% tercatat tidak layak minum menurut kriteria Menteri Kesehatan. Selain itu juga permohonan penguasaan air tanah juga semakin bertambah setiap tahunnya. Ditambah dengan aktifitas ilegal pengeboran air tanah. Dengan demikian diperlukan pemantauan kondisi air tanah secara bersama sama.

Untuk mempermudah pemantauan kondisi air tanah, BKAT sudah mengembangkan sistem yang diberi nama MONAS (Monitoring Groundwater and Subsidence). Aplikasi ini mempermudah pemantauan real time tentang kondisi dan rekomendasi teknis penguasaan air tanah. Selain itu pemapar juga menyarankan kebijakan zero deep well dan membuat sumur resapan kepada setiap pembuat bangunan baru, agar bisa mengkonservasi air tanah. Dan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan, sehingga sumber air kota bisa terjaga kebersihannya.

 

*.*.jpg

Gambar 2. Tampilan aplikasi Monas milik BKAT untuk monitoring kondisi air tanah

Dengan pelaksanaan rekomendasi ini, perlahan sudah menunjukkan hasil yang positif yaitu bertambahnya kuantitas air tanah mulai tahun 2018. Diharapkan langkah konservasi akan terus dilakukan sehingga kualitas air tanah pun juga meningkat untuk tahun tahun berikutnya.

 

Unduh Bahan Presentasi [19,9 MB]