Karakteristik Geologi Jakarta dan Keterkaitan dengan Fenomena Land Subsidence

Banjir rob dan penurunan muka tanah merupakan beberapa gambaran fenomena geologi yang sering terjadi di Jakarta. Dikarenakan fenomena ini, banyak infrastruktur yang cepat rusak dan banjir yang sering menggenangi pemukiman warga. Padahal kota pusat kegiatan pemerintahan dan bisnis di Indonesia ini mempunyai penduduk yang akan terus tumbuh hingga tahun 2040 yaitu 11,28 juta jiwa. Dengan demikian harus dilakukan pengkajian untuk merekayasa agar ibukota negara ini mempunyai daya dukung yang baik kepada setiap warganya.

Untuk membahas bagaimana fenomena ini di Jakarta, maka Geoseminar Pusat Survei Geologi pada hari Jumat, 24 Mei 2019, mendatangkan pembicara dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (Pusair), Kementerian PU, Yaitu Dr. Pulung Arya Pranantya, S.T., M.T. Beliau merupakan ahli kebumian yang sudah lama meneliti land subsidence di Jakarta.

Menurut Pulung, aktifitas kebumian Jakarta banyak berpengaruh terhadap land subsidence dan banjir rob. Daerah dengan land subsidence terbesar yaitu di Jakarta Utara sebelah Barat, atau sekitar Pluit dimana mengalami penurunan sebesar 20 cm/th. Kemudian banjir rob juga banyak terjadi di jakarta utara, meskipun sudah dibangun tanggul tanggul.

 

*.*.jpg

Gambar 1. Land subsidence akibat tektonik

 

*.*.jpg

Gambar 2. Peta land subsidence Jakarta tahun 2014

Dari hasil analisa beliau, penyebab fenomena tersebut diakibatkan oleh dua faktor; geologi yaitu aktifitas sesar, dan geoteknik meliputi pengambilan air tanah, kompaksi tanah, dan beban bangunan. Aktifitas sesar menyebabkan Jakarta terutama bagian utara mengalami penurunan, yang dibuktikan dari terdapatnya endapan kuarter. Adapun faktor geoteknik disebabkan aktifitas manusia yang sudah berlangsung lama.

Melihat faktor penyebabnya, yang dapat diintervensi aktifitasnya menurut pembicara hanya pengambilan air tanah. Selebihnya hanya meminimalkan dampak lebih buruk.

Pada bagian penutup, Pulung menyarankan dua rencana tindakan yaitu adaptasi dan mitigasi. Adaptasi yaitu membuat dike dan seawall untuk mencegah banjir rob masuk ke pemukiman. Mitigasi yaitu penerapan fasilitas monitoring land subsidence, pengendalian penggunaan air tanah oleh pemerintah dengan menerapkan kebijakan penyediaan air permukaan, dan penerapan imbuhan air tanah terkekang.

Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian yang ada dapat digunakan sebagai acuan penentuan kebijakan oleh pemerintah. Sehingga dapat menciptakan tata kota yang baik untuk ibukota tercinta.

Unduh Bahan Presentasi [21,2 MB]