Geoseminar: Geologi dan Potensi Hidrokarbon Wilayah Timor Bagian Barat

Pada tanggal 2 Juni 2017 telah diselenggarakan Geoseminar di Pusat Survei Geologi yang membahas mengenai Potensi Hidrokarbon di Wilayah Timor Bagian Barat. Topik geoseminar ini dipaparkan oleh pembicara Dr. Joko Wahyudiono S.T.,M.T., yang merupakan salah satu Peneliti di Pusat Survei Geologi. Geoseminar ini dihadiri oleh para peserta dari lingkungan Badan Geologi, LIPI, Badan Litbang, dan beberapa Perguruan Tinggi di Bandung.


Pemaparan Materi oleh Dr. Joko Wahyudiono S.T.,M.T. (Foto oleh: Donny Hermana)


Pembahasan seminar meliputi stratigrafi, pola struktur, dan kemungkinan keterdapatan batuan induk dengan metode vitrinite reflectance untuk memperkirakan terbentuknya petroleum system aktif di daerah Nenas dan Kolbano, Pulau Timor. Daerah ini secara geologi merupakan wilayah yang unik karena pulau ini terbentuk dari gabungan antara pecahan Benua Australia di bagian selatan dan Busur Banda di utara atau yang disebut dengan autochton, paraautochton, dan allochton sehingga menghasilkan kondisi geologi yang berbeda.

Penelitian di daerah Nenas dan Kolbano ini mengambil 5 lintasan yaitu Lintasan Oebaat, Lintasan Sungai Boti, Lintasan Sungai Ekbesi, Lintasan Haulasi, dan Lintasan Sungai Tunsif. Hasil pengamatan ditemukan Formasi Oebaat, Formasi Nakfunu, Formasi Aitutu, Formasi Niof, Formasi Babulu, Formasi Atahoc, Formasi Cribas, dan Formasi Niof. Kemudian dilakukan perbandingan hasil pengukuran struktur geologi di Pulau Timor dengan pola struktur di cekungan Bonaparte. Terdapat struktur yang mempunyai kesamaan arah antara pulau Timor dengan cekungan tersebut, walaupun di Pulau Timor terlihat pula arah kelurusan struktur lain yang mengindikasikan hasil perkembangan struktur lebih lanjut dari cekungan Bonaparte. Selanjutnya dari analisis stratigrafi, pola struktur, dan paleomagnetik maka dilakukan rekonstruksi pembentukan Pulau Timor yang dimulai pada jaman Perm-Trias masih berupa pemekaran dari Benua Australia hingga kala Jura, kemudian bersubduksi dengan pecahan Gondwana sebelah utara (Busur Banda) pada jaman Oligosen-Miosen, dan berhenti menjadi kolisi lempeng yang dibatasi bagian selatan dan utara oleh Kompleks Pegunungan Mutis seperti sekarang ini. Hasil analisis vitrinite reflectance (Ro) dari seluruh formasi mengindikasikan kematangan hidrokarbon termasuk dalam tingkat matang dimana hasil terbanyak didapatkan dari Formasi Aitutu. Lalu Ro di Pulau Timor dikorelasikan dengan sumur di cekungan Bonaparte yang kemudian disimpulkan formasi yang berumur Jura (Formasi Aitutu) mengindikasikan berada pada tingkat kematangan awal hidrokarbon.

Dengan demikian unsur sistem petroleum di Pulau Timor seharusnya sudah cukup memenuhi syarat untuk terdapatnya hidrokarbon, ditambah dengan adanya gas yang pernah ditemukan di daerah tersebut. Namun sampai saat ini peneliti belum bisa menentukan dimana lokasi cebakan hidrokarbonnya. Hal ini dimungkinan karena struktur pulau Timor yang sangat kompleks sehingga “menghancurkan” cebakan hidrokarbon yang telah ada sebelumnya. Kenyataan ini merupakan tantangan bagi para peneliti untuk menentukan lokasi cebakan hidrokarbon di Pulau Timor yang tentu saja dengan melakukan integrasi lebih baik antara metode geologi dan geofisika.

Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan produksi minyak dan gas bumi di Indonesia.

 

Editor: R. Isnu H. Sulistyawan
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti