Geoseminar: Ekspedisi Geologi Antartika bersama Japan Antarctic Research Expedition (JARE) ke-58



Geoseminar Pusat Survei Geologi tanggal 19 Mei 2017 menampilkan pembicara Nugroho Imam Setiawan, Ph.D. yang menyampaikan topik mengenai ekspedisi geologi di Antartika, dimana pembicara menjadi salah satu anggota dari ekspedisi ini. Ekspedisi geologi Antartika dilakukan selama 4 bulan yaitu mulai tanggal 27 November 2016 s.d. 22 Maret 2017 yang bertepatan dengan musim panas di Benua Antartika. Nugroho Imam Setiawan, Ph.D. merupakan satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang bergabung dalam ekspedisi Japan Antarctic Research Expedition ke-58 (JARE 58). Ekspedisi ini dimulai pemberangkatan dengan Kapal Penelitian Shirase dari pelabuhan Freemantle, Perth, selama 1 bulan perjalanan laut ke selatan. Geologi merupakan salah satu topik penelitian di samping 9 penelitian dalam bidang keilmuan lain. Studi geologi ini juga difokuskan pada studi batuan metamorf Antartika yang diharapkan bisa mengungkap proses pecahnya Gondwanaland dan terbentuknya pecahan-pecahan benua yang ada sekarang.

Benua Antartika pada umumnya dapat dibagi menjadi 3 wilayah besar mulai dari barat ke timur yaitu West Antarctic, Transantarctic Mountain, dan East Antarctic. West Antarctic terdiri dari batuan sedimen dengan keterdapatan fosil dan batuan gunung api. Berdasarkan umur batuan, wilayah ini diketahui mempunyai umur termuda dibanding wilayah lainnya yaitu 200 juta tahun lalu. Transantarctic Mountain terdiri dari batuan vulkanik dengan batuan sedimen diatas batuan dasar granit dan gneiss. Wilayah ini diketahui mempunyai umur batuan sekitar 500 juta tahun lalu. Pada wilayah paling timur (East Antarctic) hampir semua batuannya merupakan batuan metamorf dengan dominasi jenis Ultra High Temperature Metamorphic Rock dan diketahui merupakan batuan tertua dari dua wilayah yang lain, yaitu sekitar 3800 juta – 500 juta tahun yang lalu.

Survei dilakukan dari barat ke timur dari pelabuhan Prince Olav, Lutzow-Holm Bay, hingga Riiser Larsen. Pada daerah Prince Olav yaitu Akebono Rock, Akarui Point, dan Tenmodai tersusun atas batuan mulai dari garnet amphibolite, granit s-type, corundum bearing meta-piroxenite, dan batuan gneiss seperti garnet-silimanit-biotit gneiss, saphirine-orthopyroxene gneiss, dan kyanite bearing garnet-biotit gneiss. Derajat metamorfisme diindikasikan terdapat pada fase amphibolite hingga granulite. Sedangkan pada daerah Lutzow-Holm Bay yang meliputi Skallevikhalsen, Rundvagshetta, dan Langhovde terdiri dari batuan corundum didalam marmer, phlogopitic rock, charnokitic rock, orthopyroxene granulite, dan batuan gneiss seperti garnet-silimanite gneiss, garnet-silimanite-spinel-orthopyroxene gneiss, dan garnet-cordierite-biotite gneiss. Adapun derajat metamorfisme terdapat pada metamorfisme suhu tinggi hingga sangat tinggi. Wilayah terakhir yaitu Riiser Larsen yang tersusun dari batuan gneiss seperti saphirine-orthopyroxene-phlogopite gneiss, pseudotachylite bearing ossumilite gneiss, dan magnetite-quartz gneiss yang kemungkinan terbentuk dari Banded Iron Formation. Derajat metamorfisme diperkirakan pada derajat very low pressure high metamorphic rock.

Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa mengungkap kondisi secara detail di Antartika yang merupakan daerah terra incognita dalam ilmu geologi dan kemungkinan hubungannya dengan kehadiran batuan metamorf di luar Antartika yang setipe dan seumur. Semoga topik geoseminar ini dapat merangsang para pelaku penelitian geologi di Indonesia agar lebih terlibat secara aktif dalam peneltian-penelitian kegeologian di level dunia.

 

Materi yang disampaikan dapat dibaca pada link berikut: Materi Geoseminar Nugroho Imam Setiawan, Ph.D, 19 Mei 2017

 

Editor: R. Isnu H. Sulistyawan
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti