Geoseminar 22 Juli 2016: Towed Streamer Em Acquisition

Pada tanggal 22 Juli 2016 diadakan kegiatan geoseminar berjudul “Towed Streamer EM Acquisition” oleh Simon Irwin. Geoseminar berlangsung di Auditorium Museum Geologi dan dihadiri oleh peserta dari Badan Geologi dan tenaga ahli kebumian dari Bandung dan sekitarnya.

 

Peserta Geoseminar di Auditorium Museum Geologi (Foto oleh: Cipto Handoko)

Pemaparan Materi oleh Simon Irwin (Foto oleh: Cipto Handoko)

 

Dalam dunia survei migas, khususnya pada offshore, seismik seringkali menjadi tools untuk melihat kondisi geologi bawah permukaan. Seismik memiliki penetrasi yang cukup baik dalam menentukan petroleum system dibawah permukaan dan juga resolusi yang memadai untuk melihat struktur yang berkembang di bawah permukaan. Survei seismik juga kerap kali digunakan sebagai salah satu penentu lokasi pemboran karena kemampuannya melihat structural trap yang menjadi tempat terakumulasinya hidrokarbon di bawah permukaan.

Karakteristik kelistrikan (electrical properties) dari hidrokarbon sendiri memiliki sifat yang sangat resistif, sehingga apabila dilihat dari karateristik yang unik ini, memungkinkan para geoscientist untuk menduga atau bahkan melihat indikasi terakumulasinya hidrokarbon di bawah permukaan. Karakteristik kelistrikan ini dapat dilihat dengan menggunakan metode EM dengan resolusi tinggi.

Penggunaan metode seismik dan EM pada sebuah lapangan migas memberikan para geoscientist sebuah pemahaman yang lebih baik dalam petroleum system. Metode seismic dapat melihat geometri jebakan, serta struktur-struktur yang berkembang di lokasi tersebut, sedangkan metode EM dapat melihat konten yang terdapat pada jebakan tersebut, ditambah lagi dengan metode EM dapat melihat volume hidrokarbon yang terakumulasi pada sebuah jebakan. Dengan menggunakan kedua metode ini, diharapkan akan mengurangi drilling risk dengan melihat nilai keekonomisan sebuah lapangan oil & gas.

PT PGS Nusantara adalah sebuah perusahaan yang melakukan survey seismik dan EM secara bersamaan, sehingga hasil EM 2D inversion dapat mengevaluasi hasil 2D seismic section segera setelah proses interpretasi penampang 2D seismic.

Penelitian terhadap kedua metode ini yang digunakan secara bersamaan telah dilakukan di lokasi survey oil and gas yang dikenal dengan Wisting Central field dengan Bjaanland field. Kedua lapangan migas ini telah disurvei seismic sebelumnya dan memiliki indikasi terdapatnya perangkap-perangkap hidrokarbon. Namun Wisting Central field memiliki high resistivity anomaly sedangkan Bjaaland field memiliki low resistivity anomaly. Setelah dilakukan pemboran pada kedua lapangan migas ini, Wisting Central field berhasil memproduksi migas, sedangkan Bjaaland field ternyata dry hole. Disimpulkan bahwa high resistivity anomaly merupakan lead adanya indikasi akumulasi hidrokarbon, dan sebaliknya pada low resistivity anomaly.

Jadi, dengan metode EM, para geoscientist dapat mengevaluasi hasil 2D seismic section. Keberadaan perangkap yang digambarkan dari 2D seismic section dapat dilihat apakah terdapat konten hidrokarbon atau tidak didalamnya dengan menggunakan motode high resolution EM.

 

Editor: Akbar Cita
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti