REVIEW SEJARAH PENGENDAPAN DAN POTENSI HIDROKARBON DI CEKUNGAN TARAKAN

Dengan telah diterbitkannya peta cekungan sedimen Indonesia yang berjumlah 128 buah yang terdiri atas cekungan pra tersier, maka diperlukan studi lebih mendalam yang meliputi penelitian rinci dan terukur setiap cekungan. Kalimantan merupakan daerah yang kaya akan sumberdaya alam, baik itu kekayaan yang dapat diperbaharui atapun yang tidak dapat diperbaharui, selain itu, secara keilmuan Kalimantan mempunyai sejarah panjang geologi yang terekam di dalam batuan-batuan yang terbentuk di dalamnya. Potensi sumberdaya ini akan dapat dimanfaatkan dengan baik apabila tatanan geologi di daerah ini dapat dipecahkan. Salah satu potensi sumberdaya alam yang ada di daerah Kalimantan utara adalah energi fosil. Cekungan Tarakan yang berada di wilayah bagian utara Pulau Kalimantan telah terbukti menghasilkan minyak bumi dan gas.

Mengingat produksi minyak dan gas bumi telah mengalami penurunan pada dekade ini dan juga penemuan lapangan minyak dan gas bumi semakin sulit. Oleh karena itu kebutuhan data geosain yang berhubungan dengan data minyak dan gas bumi sangat diperlukan untuk mendorong meningkatkan produksi migas tersebut. Ketersediaan data geosain (G&G) yang lengkap akan menarik minat para investor migas untuk mengelola wilayah kerja (WK) migas tersebut. Oleh karena itu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempunyai kebijakan untuk melakukan survei geosain (G&G) terutama di Wilayah Indonesia Bagian Timur.

Cekungan Tarakan merupakan cekungan yang telah memproduksi hidrokarbon, yaitu di sub Cekungan Muara. Adapun sub Cekungan Tarakan dan sub Cekungan Muara. Adapun sub Cekungan Berau dan sub Cekungan Tidung belum berproduksi hidrokarbon. Hal ini menjadi pertanyaan mengapa tidak berproduksi? Dalam rangka mendapatkan daerah prospek hidrokarbon maka diperlukan informasi geologi data permukaan untuk mengetahui sejarah pengendapan dan potensi hidrokarbon di Cekungan Tarakan.

Sejarah pengendapan dan sIstem petroleum di Cekungan Tarakan harus diketahui dan dipecahkan agar dapat mengetahui penyebaran dan potensi hidrokarbon di Cekungan Tarakan itu sendiri. Adapun stratigrafi penyusun Cekungan Tarakan adalah (dari tua ke muda) : Formasi Sujau, Formasi Seilor/Mangkabua, Formasi Tempilan, Formasi Tabalar, Formasi Birang/Naintupo, Formasi Latih/Meliat, Formasi Menumbar, Formasi Tabul/Santul, Formasi Sajau/Tarakan, Formasi Domaring, Formasi Bunyu/Waru.

 

*.*.jpg

Pembagian sub cekungan pada Cekungan Tarakan (Tossin dan Kadir, 1996)

 

Pada sistem petroleum di Cekungan Tarakan, yang berperan sebagai batuan reservoar adalah batupasir Formasi Tabul dan batugamping Formasi Tabalar. Batuan yang berperan sebagai seal/tudung dari reservoar adalah batulempung Formasi Birang sebagai tudung dari Formasi Tabalar, adapun batupasir Formasi Tabul ditutup oleh batulempung Formasi Menumbar. Adapun batuan yang berperan sebagai batuan induk adalah batuan klastik halus Formasi Meliat (Miosen Tengah) dan Formasi Tabul (Miosen Akhir), dan Formasi Malio (Eosen) dan Formasi Birang (Oligo = Miosen) pada bagian selatan Cekungan Tarakan.

 

*.*.jpg

Konsep Oil Play di Cekungan Tarakan

 

Kerangka tektonik Pulau Kalimantan oleh (Nuay, 1985 dlam setyana, 1999) dibagi menjadi 12 unit, Yaitu: Paparan sunda, Pegunungan Mangkalihat, Paternoster Platform, Tinggian Kuching,Tinggian Meratus, Tinggian Sampurna, Cekungan Melawi – Ketungau, Cekungan Tarakan, Cekungan Kalimantan Barat – Laut, Cekungan Barito, Cekungan Asem – Asem dan Cekungan Kutai.

*.*.jpg

Kerangka Tektonik Pulau Kalimatan (Nuay, 1998 dalam Setyana, 1999)


Salah satu unit kerangka tektonik Pulau Kalimantan menurut (nuay, 1985 dalam Setyana, 1999) adalah Cekungan Tarakan, dimana Tinggian Sampurna merupakan batas pada bagian utara, Tinggian Kuching batas pada bagian barat, Pegunungan Mangkalihat batas pada bagian selatan dan membuka ke arah timur sampai ke Selat Makasar.

Proses pengendapan Cekungan Tarakan dimulai dari proses pengankatan (transgresi) yang diperkirakan terjadi pada kala Eosen sampai Miosen Awal bersamaan dengan terjadinya proses pengangkatan gradual pada Tinggian Kuching dari barat ke timur. Pada kala Miosen Tengah terjadi penurunan (regresi) pada Cekungan Tarakan yang dilanjutkan dengan terjadinya pengendapan progradasi kea rah timur dan membentuk endapan delta, yang menutupi endapan prodelta dan batial.

Cekungan Tarakan mengalami proses penurunan secara lebih aktif lagi pada kala Miosen sampai Pliosen. Proses sedimentasi delta yang tebal relatif bergerak kea rah timur terus berlanjut selaras dengan waktu. Cekungan Tarakan berupa depresi berbentuk busur yang terbuka ke timur kea rah Selat Makasar yang meluas ke utara ke Sabah dan berhenti pada zona subduksi di Tinggian Sampurna dan merupakan Cekungan paling utara di Kalimantan. Tinggian Kuching dengan inti lapisan pra-Tersier terletak disebut baratnya. Batas selatannya adalah Pegunungan Suikerbood dan Tinggian Mangkalihat. Ditinjau dari fasies dan lingkungan pengendapany, Cekungan Tarakan terbagi menjadi 4 sub Cekungan, yaitu sub Cekungan Tidung, sub Cekungan Tarakan, sub Cekungan Muara dan sub Cekungan Berau.

  • Direview oleh : Yaya Mulyana, Humas PSG

ooooOOOoooo

 

Untuk lebih jelasnya dapat di lihat di Perpustakaan Pusat Survei Geologi, dengan Judul :

PUSAT PENGENDAPAN DAN POTENSI HIDROKARBON DI CEKUNGAN TARAKAN

Disusun oleh : Amir Hamzah, S.T., M.T (Pusat Survei Geologi)