Program Kemitraan Bidang Minyak Dan Gas Indonesia Tahun 2016: Indonesia’s Oil And Gas Partnership Program 2016

Kebijakan pemerintah dalam usaha penemuan cadangan migas baru melalui kegiatan eksplorasi offshore dan onshore telah menetapkan bahwa Kawasan Indonesia Bagian Timur menjadi fokus dan prioritas utama. Hal ini disebabkan oleh minimnya kegiatan eskplorasi dan ketersediaan data di kawasan tersebut. Selain itu, keberadaan cekungan sedimen di wilayah ini didominasi oleh wilayah frontier dan deep sea. Badan Geologi (publikasi tahun 2009) telah mengidentifikasi adanya 128 cekungan sedimen sebagai referensi dalam kegiatan eksplorasi sumber daya migas di Indonesia, dimana 71 cekungan sedimen berada di kawasan Indonesia Timur. Dari jumlah tersebut 43 cekungan diantaranya belum pernah dilakukan pemboran (undrilled) sehingga perlu dilakukan kegiatan eksplorasi secara masif. Hal tersebut menjadi salah satu topik bahasan dalam pertemuan Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2016 yang diprakarsai oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM).

Pertemuan Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2016 dihadiri oleh 15 peserta dari 13 negara sahabat, yaitu: Jordania, Libya, Rusia, Thailand, Kamboja, Mexico, Timor Leste, Kuwait, Angola, Myanmar, Venezuela, Tunisia, dan Mozambik. Diantara peserta dari negara-negara sahabat hadir Gladys Fransisca (Duta Besar Bolivia); Walid Al Hadid (Duta Besar Jordania), dan Ang Htoo (Duta Besar Myanmar). Rangkaian kegiatan ini direncanakan berlangsung dari tanggal 19 hingga 30 September 2016 yang mencakup pertemuan formil dan presentasi substantif terkait kebijakan dan teknis bidang migas, juga dilakukan kunjungan-kunjungan lapangan dibeberapa lokasi di Indonesia, kunjungan ke industri migas nasional juga dirangkai dengan pertemuan lanjutan di Batam, Bali, dan Cepu.

 

Suasana Forum Diskusi dan Tanya Jawab yang Diikuti oleh 13 Negara Sahabat Dalam Pertemuan Indonesia’s Oil and Gas Partnership Program 2016 di Hotel AOne, Jakarta 19 September 2016

 

Pembukaan acara dilaksanakan di Hotel AOne, Jakarta oleh Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Prof. Dr. IGN. Wiratmaja yang dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa pertemuan semacam ini sudah dimulai sejak tahun 2010. Kegiatan dimaksudkan untuk mempererat kemitraan antar negara di bidang migas melaui sharing informasi kebijakan dan teknologi dan jalinan kerjasama spesifik antar negara khususnya dalam kegiatan survei dan teknologi eksplorasi. Pertemuan semacam ini sekaligus merupakan ajang memperkenalkan potensi dan kegiatan Indonesia dalam bidang minyak dan gas bumi yang diharapkan mampu menciptakan jaringan untuk lebih mengembangkan peluang investasi di bidang migas. Setelah pembukaan dilakukan presentasi dari beberapa nara sumber dari Indonesia dan dari masing-masing negara peserta.

Kepala Pusat Survei Geologi, Dr. Ir. Muhammad Wafid A.N., M.Sc., yang mewakili Badan Geologi mempresentasikan Potensi Sumber Daya Migas di Indonesia dan menjelaskan bahwa Sumber Daya Migas di Indonesia masih sangat potensial untuk investasi termasuk dalam kegiatan eksplorasi khususnya di Kawasan Timur Indonesia. Kepala Pusat Survei Geologi menyampaikan bahwa dengan telah dibuktikannya keterdapatan jumlah cadangan yang besar di cekungan Bonaparte (Australia) dan beberapa wilayah di Papua New Guinea, dimana secara paleogeographic kawasan tersebut merupakan bagian dari kondisi geologi regional di Kawasan Indonesia Timur, merupakan satu tantangan (challange) menarik untuk diperolehnya cadangan migas baru di Indonesia dan itu menjadi salah satu peluang investasi.

 

Presentasi Indonesia’s Potential Resources oleh Dr. Ir. Muhammad Wafid A.N., M.Sc., Kepala Pusat Survei Geologi

 

Dalam rangkaian acara, para peserta akan diberikan kesempatan untuk mengunjungi beberapa lembaga pemerintah dan swasta di Indonesia serta perusahaan minyak nasional.

 

Editor: Akbar Cita
Diunggah oleh: Gita Dwijayanti