Misteri Manusia Purba Pertama Penghuni Pulau Sulawesi

Kegiatan penelitian geologi dan paleontologi di Cekungan Walanae, Sulawesi Selatan telah berhasil menemukan lapisan – lapisan fosil vertebrata dan alat batu (artefak). Penentuan umur dengan metode multiple-elevated-temperature post-infrared infrared stimulated luminescence (MET-pIRIR) pada lapisan fosil dan artefak menghasilkan umur antara 195, 000 — 103, 000 tahun yang lalu (Gambar 1 dan Gambar 2). Hasil penanggalan menyatakan bahwa manusia purba telah hidup di Pulau Sulawesi minimal sejak 118,000 yahun yang lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa manusia purba telah menghuni Pulau Sulawesi lebih awal dari hasil penelitian sebelumnya ( 40, 000 tahun yang lalu). Hasil kegiatan penelitian ini telah dipublikasikan di Jurnal Nature, Volume 529, yang terbit pada tanggal 14 Januari 2016.

Kegiatan penelitian geologi dan paleontologi di Cekungan Walanae merupakan kegiatan penelitian hasil kerjasama antara Badan Geologi dengan University of New England, Australia dan University of Wollongong, Australia. Kegiatan penelitian dilaksanakan oleh Tim dari Pusat Survei Geologi (PSG), Museum Geologi dan Tim Australia pada periode 2007 – 2012 untuk menjawab sejak kapan manusia purba hidup di Pulau Sulawesi. Kegiatan penelitian berhasil menemukan empat lokasi yang terdapat akumulasi fosil dan alat batu. Fosil vertebrata yang ditemukan antara lain fosil kerbau (Bovidae), babi rusa (Celebochoerus sp.), gajah (Stegodon) dan buaya (Crocodilus). Adapun artefak pada umumnya berupa alat serpih (flake) dan bahan alat (core) (Gambar 2).

Saat ini fosil manusia purba pembuat alat – alat batu tersebut belum ditemukan. Pulau Sulawesi masih menyimpan misteri mengenai keberadaan fosil manusia purba tersebut. Penelitian secara komprehensif dan multidisipliner perlu dilakukan secara intensif di Pulau Sulawesi untuk mencari dan menemukan fosil manusia purba serta mengkaji aspek geologi dan paleontologinya. Keberagaman fauna Pulau Sulawesi dan aspek geologi yang mencakup geokronologi, lingkungan dan iklim purba, perlu diteliti lebih detil. Penemuan fosil hominin di Indonesia bagian timur dapat membantu di dalam memecahkan permasalahan “missing link” evolusi dan migrasi hominin di Indonesia, Asia Tenggara maupun dunia.


 

Gambar 1. Foto lokasi penggalian (eskavasi) di Talepu, Kabupaten Soppeng, Propinsi Sulawesi Selatan. a) Lokasi Talepu dan punggunang bukit yang berarah utara – selatan; b) Dinding timur penggalian Talepu 2 Tahun 2009; c) Penggalian Talepu 2 dengan kedalaman mencapai 12 m Tahun 2012; d) Foto penggalian Talepu 4 (menghadap ke dinding utara) Tahun 2010; e) Dinding utara penggalian Talepu 2 Tahun 2012 dimana terlihat lubang bekas pengambilan sampel untuk penentuan umur dengan metode luminescence.


Gambar 2. Stratigrafi Talepu dan posisi lapisan pembawa fosil dan alat batu serta posisi pengambilan sampel untuk penentuan umur.


Gambar 3. Foto alat batu dan fosil fauna yang ditemukan di penggalian Talepu. a-f) alat serpih terbuat dari batugamping tersilisifikasi yang ditemukan di Talepu 2; g) inti radial (Talepu 2); h-i) inti (Talepu 2); j-m) alat serpih (Talepu 4); n) gigi seri atas bagian kiri, Celebochoerus sp.; o) gigi taring bawah bagian kiri, Celebochoerus sp.; p) premolar ketiga atas bagian kanan, Celebochoerus sp.; q) gigi geraham atas dan bawah bagian kiri, Celebochoerus sp.; r) fragmen gigi geraham Stegodon (D, dentin; OE, enamel bagian luar; IE, enamel bagian dalam; OE and IE ketebalan sama ; s) gigi premolar keempat atas bagian kiri, Celebochoerus sp.; t) fragmen gigi geraham ketiga bawah bagian kiri, Bovidae, cf. Bubalus sp. *Sampel fosil yang digunakan untuk analisis penanggalan isotop uranium.