Gempabumi Dan Tsunami Pangandaran, Ciamis

gambar_4-150Belum pupus dari ingatan kita ketika serangkaian bencana geologi dahsyat melanda negeri tercinta. Dimulai dari gempabumi berkekuatan 8.9 SR diikuti tsunami 6 Desember 2004 silam yang telah meluluh lantakan kawasan pesisir bumi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dengan jumlah korban jiwa sangat besar (ratusan ribu orang). Tidak berselang lama, gempabumi berkekuatan 8.7 SR menggoyang Pulau Nias, Sumatera Barat pada 28 Maret 2005 dan menyebabkan sekitar 1.300 jiwa meninggal dunia. Berikutnya gempabumi ber-episenter dangkal disekitar muara Kali Opak, Yogyakarta (27 Mei 2006) berkekuatan 5.9 SR telah memakan korban sekitar 5.000 jiwa. Yang terkini adalah gempabumi berkekuatan 6.8 SR yang berpusat di Samudera Indonesia (sekitar 260 km sebelah selatan Bandung) telah memicu tsunami yang memporak porandakan pantai selatan Jawa (segmen Tasikmalaya-Pangandaran-Cilacap-Kebumen) dengan jumlah korban jiwa sekitar 500 orang.


Sebagai institusi yang bekompeten dalam geologi, Kepala Pusat langsung merespon dengan memerintahkan Tim Kebencanaan yang sedang bekerja di Jogya untuk melakukan analisis mekanisme gempa sekaligus mengirimkan sebagian personilnya melakukan peninjauan lapangan guna menginventarisir bukti-bukti sebaran tsunami dan dampak bencana yang diakibatkannya. Berikut ini adalah ekstraksi dari laporan dari Tim Kebencanaan PSG yang dikordinir oleh Ir. Asdani Soehaemi.

Data Kejadian Gempabumi dan Tsunami

Kejadian Gemmpa : 17 Juli 2006, jam 15.19.73 WIB petang
Pusat Gempa : 9.295 LS - 107.347 BT
Kekuatan : 7.1 Mw atau 7.2 Mb (USGS) atau 6.8 SR (BMG)
Kedalaman : 8 km
Tsunami : Melanda pantai selatan Jawa pada pukul 15.39.45 WIB dengan ketinggian bervariasi dari 1-3.5 m dan rambahan 75-500 m

Sebaran, Ketinggian, Rambahan dan Resiko

Berdasarkan hasil survei lapangan dengan menggunakan GPS dan pengukuran jejak ketinggian serta jejak jarak rambahan, telah terekam data terjadinya tsunami di berbagai lokasi di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa, mulai dari Kabumen-Cilacap-Pangandaran seperti tercantum dalam Tabel 1 .

Hasil Analisis Data Lapangan

Berdasarkan kedudukan pusat gempa, kedalaman serta mekanisme fokal, diperkirakan telah terjadi mekanisme gerak sesar naik di dasar samudera dengan patahan berarah U 270o - 300o T dengan kemiringan sekitar 7o ke Utara. Patahan tersebut kemungkinan besar berhubungan dengan pergerakan dan runtuhan dari prisma akresi yang dipicu oleh aktifas penunjaman lempeng Indo-Australia. Patahan menyebabkan terjadinya dislokasi masa batuan yang kemudian mendorong sejumlah besar volume air laut membentuk gelombang pasang yang bergerak secara radial menjauhi pusat gempa. Berdasarkan hasil pengukuran ketinggian dan rambahan tsunami di beberapa lokasi, terlihat kecenderungan terjadinya penguatan amplitudo (atenuasi) gelombang tsunami di teluk-teluk yang langsung menghadap laut lepas. Keberadaan paparan pantai dengan kedalaman air relatif dangkal kemungkinan menyebabkan pecahnya gelombang tsunami pada saat menghantam pantai sehingga menimbulkan kerusakan parah sampai 100-300 m dari titik pasang tertinggi.

Rekaman data lapangan disepanjang wilayah bencana menunjukan bahwa pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis terlanda tsunami paling berat. Pantai Pangandaran Barat relatif mengalami kerusakan lebih parah akibat terjangan gelombang pasang jika dibandingkan pantai Pangandaran Timur. Keberadaan Semenanjung Pananjung relatif melindungi pantai Pangandaran Timur dari terjangan gelombang pasang. Pada saat kejadian, gelombang pasang yang menghantam Semenanjung Pananjung dipantulkan sehingga bergerak menuju pantai Pangandaran Barat dengan ketinggian sekitar 2 m pada jarak sekitar 200 m dari garis pantai (Foto 1, 2, 3, 4, 5).

Berdasarkan data ketinggian dan rambahan tsunami, diharapkan Tim dapat melakukan interpretasi tentang zona-zona rawan, sebagai masukan bagi penataan kembali tata ruang disepanjang pantai selatan Pulau Jawa. (Bidang Informasi)


gambar_1_250

bebas-korupsi-banner 
airborne geophysics Digital Geology Library Pusat Survei Geologi 

Agenda

NOEVENTS